Sunday, February 15, 2015

KITA ANAK LEMBAH HARAPAN



                                               Siapakah diantara kita yang telah lupa betapa indahnya lembah yang teramat sunyi itu? Siapa diantara kita yang malu mengakui bahwa ia berasal dari sebuah lembah?
Dan sebelum ini, kita telah menautkan langkah dalam berpasang-pasang kaki. Kita adalah bocah-bocah dari tanah Lembah Harapan, pengais kisah lembah, perakit-rakit cerita di antara pohon belantara. kita menamai diri sebagai Panji pedalaman.
Ada banyak hal yang sangat kurindukan dari belasan tahun yang lalu bersama kalian. Ketika kita saling bersahut-sahutan dari anak tangga masing-masing dipagi buta, mendengarkan orangtua kita yang sedang membicarakan keadaan ladang mereka, atau sambil kita duduk malas membungkus seluruh tubuh kecuali kepala demi menahan dinginnya Lembah. Lalu dengan begitu kita harus rela di omelin karena tidak bergegas mandi di sumur. Atau anak perempuan yang lupa membawa ember kecil kesumur akan dikurangi jatah cuci kakinya karena tidak membawa air pulang kerumah. Hoho, ini mungkin hanya aku yang sering mengalaminya. Aku memang pemalas dari kecil, jarang-jarang aku menyadarinya. :D
                Kalian masih ingat sumur-sumur yang biasa kita manfaatkan? Juga sungai-sungai tempat kita berenang setelah lelah berburu ikan kecil? hutan-hutan belantara yang kita tembus dengan keberanian yang dipaksa-paksakan demi mendapatkan bunga anggrek? Atau saat kita dengan beraninya berbohong pada orangtua demi mendapatkan izin keluar rumah hanya demi berburu burung-burung ‘Dongi-dongi’ yang ada ditengah perkebunan tetangga? Kukira, dalam ingatan kalian semua rekaman masa kecil kita masih tersimpan rapi.
 Kelak jika aku tertakdir pulang kesana aku ingin mengunjungi tempat-tempat itu. Aku ingin berdiri ditepian sumur sambil memutar apa yang pernah terjadi disini dulu, saat ibu-ibu yang sedang mencuci dengan rela menghentikan kegiatan mencucinya demi menimba air untuk kita mandi, lalu paling sering aku datang tanpa membawa sabun mandi. Sebagai gantinya aku memanfaatkan daun-daun pohon gamal yang tumbuh subur disekitar sumur dengan menggosok-gosoknya keseluruh tubuhku hingga berbusa. Dan berlomba lari melewati  semak-semak belukar, berpencar pada jalan setapak menuju rumah masing-masing. Mendiskusikan kembali tentang permainankemarin(Ma’benteng ,lempar tengah, main asing,), mengingat-ingat skor terakhir dan menuduh kakak-kakak kelas banyak yang curang. Bersemangat kesekolah tanpa alas kaki, jangankan memakai sepatu, punya seragam sekolah saja sudah bagus. Dan kegirangan saat satu-satunya guru untuk enam kelas telat atau sama sekali tidak datang karena ini adalah hari sabtu, Pak guru pasti ke pasar. Dan dasar bocah-bocah nakal, ketika guru tidak datang, kita malah memanfaatkannya untuk menonton perkelahian, kuingat sekali diantara kalian ada dua orang yang paling sok jagoan untuk beradu kekuatan diatas meja. Kami menjadi penonton paling heboh dengan teriakan “ewakoo” :D , kalian jangan pura-pura lupa ya :p
Dulu Ketika malam, Lembah kita berubah layaknya kamar gelap. Benar-benar gelap. Jangankan listrik, masing-masing rumah hanya rata-rata memiliki dua lentera karena berhemat minyak tanah. Tapi kita tetap semangat belajar dengan penerangan sederhana, belajar tambah kurang dan kali, mengeja satu persatu huruf dari buku yang dipinjamkan pak guru siang tadi, atau kita harus mengalah ketika orangtua harus membawanya pergi karena hendak membersihkan biji-biji cokelat yang belum dipisahkan dari ampasnya, atau malah membawa lari satu lentera paling terang untuk berburu jangkrik bersama teman-teman lainnya diantara bongkahan-bongkahan tanah depan rumah tetangga. Dan kami anak perempuan hanya melihat-lihat keberadaan kalian melalui penerangan yang kalian gerak-gerakkan sambil penasaran dengan jangkrik hitam-putih yang sering kalian ceritakan. Berharap ada yang membawanya pulang agar kami bisa melihat permainan sabung jangkrik esok pagi.
Sekarang masing-masing kita sudah dewasa, kita bukan lagi bocah-bocah nakal  lembah. Kita sudah memiiki langkah masing-masing, profesi yang berbeda-beda. Kisah ajaib dan keseruan masa kecil hanya rekaman jejak dalam kenang.
 Aku bangga memiliki saudara seperti kalian. Aku bangga telah dibesarkan disebuah lembah sunyi nan terbelakang bersama teman-teman hebat seperti kalian.
Makassar 13 januari,
Lembah Harapan/Pangi-pangi dalam kenangan.