Siapakah diantara kita yang telah lupa betapa indahnya
lembah yang teramat sunyi itu? Siapa diantara kita yang malu mengakui bahwa ia
berasal dari sebuah lembah?
Dan sebelum ini, kita telah menautkan langkah dalam berpasang-pasang
kaki. Kita adalah bocah-bocah dari tanah Lembah Harapan, pengais kisah lembah,
perakit-rakit cerita di antara pohon belantara. kita menamai diri sebagai Panji
pedalaman.
Ada banyak hal yang sangat
kurindukan dari belasan tahun yang lalu bersama kalian. Ketika kita saling
bersahut-sahutan dari anak tangga masing-masing dipagi buta, mendengarkan
orangtua kita yang sedang membicarakan keadaan ladang mereka, atau sambil kita
duduk malas membungkus seluruh tubuh kecuali kepala demi menahan dinginnya
Lembah. Lalu dengan begitu kita harus rela di omelin karena tidak bergegas
mandi di sumur. Atau anak perempuan yang lupa membawa ember kecil kesumur akan
dikurangi jatah cuci kakinya karena tidak membawa air pulang kerumah. Hoho, ini
mungkin hanya aku yang sering mengalaminya. Aku memang pemalas dari kecil,
jarang-jarang aku menyadarinya. :D
Kalian
masih ingat sumur-sumur yang biasa kita manfaatkan? Juga sungai-sungai tempat
kita berenang setelah lelah berburu ikan kecil? hutan-hutan belantara yang kita
tembus dengan keberanian yang dipaksa-paksakan demi mendapatkan bunga anggrek?
Atau saat kita dengan beraninya berbohong pada orangtua demi mendapatkan izin
keluar rumah hanya demi berburu burung-burung ‘Dongi-dongi’ yang ada ditengah
perkebunan tetangga? Kukira, dalam ingatan kalian semua rekaman masa kecil kita
masih tersimpan rapi.
Kelak jika aku tertakdir pulang kesana aku
ingin mengunjungi tempat-tempat itu. Aku ingin berdiri ditepian sumur sambil
memutar apa yang pernah terjadi disini dulu, saat ibu-ibu yang sedang mencuci
dengan rela menghentikan kegiatan mencucinya demi menimba air untuk kita mandi,
lalu paling sering aku datang tanpa membawa sabun mandi. Sebagai gantinya aku
memanfaatkan daun-daun pohon gamal yang tumbuh subur disekitar sumur dengan menggosok-gosoknya
keseluruh tubuhku hingga berbusa. Dan berlomba lari melewati semak-semak belukar, berpencar pada jalan
setapak menuju rumah masing-masing. Mendiskusikan kembali tentang permainankemarin(Ma’benteng
,lempar tengah, main asing,), mengingat-ingat skor terakhir dan menuduh
kakak-kakak kelas banyak yang curang. Bersemangat kesekolah tanpa alas kaki,
jangankan memakai sepatu, punya seragam sekolah saja sudah bagus. Dan
kegirangan saat satu-satunya guru untuk enam kelas telat atau sama sekali tidak
datang karena ini adalah hari sabtu, Pak guru pasti ke pasar. Dan dasar
bocah-bocah nakal, ketika guru tidak datang, kita malah memanfaatkannya untuk
menonton perkelahian, kuingat sekali diantara kalian ada dua orang yang paling
sok jagoan untuk beradu kekuatan diatas meja. Kami menjadi penonton paling
heboh dengan teriakan “ewakoo” :D , kalian jangan pura-pura lupa ya :p
Dulu Ketika malam, Lembah kita
berubah layaknya kamar gelap. Benar-benar gelap. Jangankan listrik, masing-masing
rumah hanya rata-rata memiliki dua lentera karena berhemat minyak tanah. Tapi
kita tetap semangat belajar dengan penerangan sederhana, belajar tambah kurang
dan kali, mengeja satu persatu huruf dari buku yang dipinjamkan pak guru siang
tadi, atau kita harus mengalah ketika orangtua harus membawanya pergi karena
hendak membersihkan biji-biji cokelat yang belum dipisahkan dari ampasnya, atau
malah membawa lari satu lentera paling terang untuk berburu jangkrik bersama
teman-teman lainnya diantara bongkahan-bongkahan tanah depan rumah tetangga.
Dan kami anak perempuan hanya melihat-lihat keberadaan kalian melalui
penerangan yang kalian gerak-gerakkan sambil penasaran dengan jangkrik
hitam-putih yang sering kalian ceritakan. Berharap ada yang membawanya pulang
agar kami bisa melihat permainan sabung jangkrik esok pagi.
Sekarang masing-masing kita sudah
dewasa, kita bukan lagi bocah-bocah nakal lembah. Kita sudah memiiki langkah
masing-masing, profesi yang berbeda-beda. Kisah ajaib dan keseruan masa kecil
hanya rekaman jejak dalam kenang.
Aku bangga memiliki saudara seperti kalian.
Aku bangga telah dibesarkan disebuah lembah sunyi nan terbelakang bersama
teman-teman hebat seperti kalian.
Makassar 13 januari,
Lembah Harapan/Pangi-pangi dalam
kenangan.
