Friday, November 14, 2014

Kak Gadis



Pagi ini aku tak menemukan secangkir air putih diatas meja kamarku, gelas susu semalam yang tidak sempat kuhabiskanpun masih tak berpindah. Mungkin kak Gadis masih tertidur, ia lupa dengan kebiasaannya yang sngat menyayangiku. Pelan aku beranjak, menyibak gorden biru yang menutupi jendela kamarku. Dengan cepat bau basah menyerbak kehidungku, aku lupa kalau sekarang sudah memasuki bulan November. Musim hujan sudah tampak didepan mata. Tetiba aku teringat dengan kak Gadis, perasaanku mendesak untuk menjumpainya. Aku mengejar kekamarnya, mencari sosok kakak perempuanku. Disana kutemui ia sedang menangis dilantai, menyelimuti tubuhnya dengan selimut biru pemberian ibu saat ulangtahunnya tiga tahun lalu.
“Kak Gadis”, aku mendekatinya pelan-pelan, menyentuh pundaknya beralaskan selimut. Ia hanya menggeleng, memberi isyarat agar aku tak bertanya apapun. Ini bukan kali pertama aku melihat kak Gadis menangis ketakutan seperti ini ketika hujan turun. Bahkan beberapa kali kak Gadis histeris mendengar suara-suara hujan di genteng. Sampai sekarang aku tak tahu kenapa kak Gadis sebegitu phobianya dengan hujan, bahkan melihat hujan dibalik jendela kamar saja ia tidak sanggup.
“kakak jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa” aku mencoba menenangkan, meniru cara ibu di musim hujan tahun lalu tapi Kak Gadis tetap menangis, kedua tangannya menutupi daun telinga. Semakin aku menenangkan, kak Gadis semakin merasa terganggu. Aku mengalah dan kembali kekamarku, membiarkan kak Gadis menenangkan hatinya sendiri.
Kubuka daun jendela lebih lebar, hujan diluar semakin deras. Aku terus memikirkan kakak perempuanku dan hujan yang sangat ditakutinya. Yang aku tahu dulu kak Gadis tidak seperti ini, bahkan ia akan rela keluar bermandikan hujan jika aku dan Dana, adik bungsu kami merengek ditemani bermain hujan. Kami selalu menantikan saat-saat turunnya hujan, bermain kejar-kejaran didepan rumah sambil mengajak kak Gadis bermain bersama kami. Basah kuyup tanpa perduli kami akan pilek setelahnya. Terakhir kami bertiga bermandikan hujan bersama adalah tujuh tahun yang lalu, saat usiaku masih Sembilan tahun. Ketika itu Ayah dan Ibu sedang keluar kota, sementara kami tinggal bertiga dirumah. Seperti biasa, ketika musim hujan Dana yang paling semangat bermanja kepada kak Gadis agar menemaninya bermain diluar. Dan kali ini permintaannya agak merepotkan, ia minta diajak keliling kompleks sambil menikmati tetesan deras dari langit diatas motor. Aku sendiri terlanjur asyik bermain bersama teman-temanku, lupa kalau bermain hujan diatas motor lebih asyik.
Hujan sudah mulai redah, aku sudah kedinginan didepan pintu menunggu kak Gadis dan Dana pulang. Aku urung masuk sebelum mereka datang, padahal Jika aku bercermin kupastikan bibirku sudah berubah biru, mataku pasti memerah.
“cepat panggil Ayahmu, Ibumu” suara bapak-bapak seperti sedang memerahiku, aku keheranann melihat beberapa orang yang datang berkumpul didepan rumahku. Beberapa detik berlalu, aku baru sadar kalau kak Gadis dan Dana sudah datang, mereka masing-masing digendongan dua bapak-bapak yang tidak kukenal. Aku melhat dengan jelas darah yang menetes dari kedua tubuh dalam gendongan itu. Keduanya dibawa masuk, aku mengikuti puluhan orang yang mengantar kakak dan adikku kekamar. Seorang ibu yang selalu kulihat tiap pagi didepan rumah memelukku sambil menangis, aku sendiri masih bingung apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kak Gadis dan Dana digendong sambil dari tubuhnya menetes darah segar? Namun yang jelas sehari setelah itu orang-orang yang datang semakin banyak. Dana, adikku satu-satunya seperti sebuah pajangan yang ditaruh diruang tengah, tubuhnya ditutup kain kafan, darah dari hidungnya sesekali masih keluar. Tangisan keluarga semakin nyata hari itu, Ibu menangis sejadi-jadinya, Ayah untuk pertamakalinya kulihat embun berlarian dari matanya, dan juga kak Gadis yang tidak sekalipun berhenti memanggil nama adik bungsunya, Dana.
Aku masih berdiri didepan jendela sambil menatap hujan saat kak Gadis masuk dengan kursi rodanya, ia membawa segelas air putih dengan tangan yang bergetar. Aku melihat sendiri bagaimana gelas itu bergoyang mengikuti getaran tangannya, segera kujemput dilubang pintu.
“terimakasih, kak” aku membantu kak Gadis melewati daun pintu, aku meletakkan kursi rodanya disamping meja belajarku.
                “kakak jadi kan ajarin Dena membuat origami?” aku mencoba mengajaknya santai, memberinya senyuman mengajak bercanda, walau tetap saja ketakutan diwajahnya tidak lepas. Sorot matanya tidak berpindah, terus menatap beban keluar jendela. Aku mengerti perasaannya, segera kututup jendela dan menyibak gorden kembali.
“Kakak jangan berfikiran yang aneh-aneh ya, tidak akan terjadi apa-apa” aku memeluknya dari belakang, memastikan bahwa kejadian tujuh tahun silam tidak akan terjadi lagi. Lalu diam-diam kupastikan irama indah yang tercipta diatas genteng tetap kunikmati, aku masih Dena tujuh tahun yang lalu. Yang mencintai hujan lewat kenangan, dan mengenang kenangan dengan hujan.

Wednesday, November 5, 2014

Tak Bermaksud

kalau ingin mendata satu persatu orang yang tidak pandai menemani kehidupan, aku khawatir namaku tertulis didalamnya. bagaimana mungkin, aku yang hampir tiap pekannya diingatkan tentang silaturrahim, tentang persaudaraan terjalin masih sangat kelu lida untuk berkata 'ya' memenuhi permintaanmu bertemu. bodohnya, aku selalu dengan susah payah mencari alasan untuk membatal perjumpaan. hanya karena satu hal yang sepele, Kecewa.

lalu adakah lantas aku harus menghindar? memutus dilaturrahim? aih, hatiku juga perih dibagian ini. siapa bilang aku bermaksud sekejam itu. tidak, sebenar tidak.
jangan berulang-ulang bertanya mengapa! aku hanya tidak tega melihatmu dengan perasaan benci, menatapmu dengan mata yang menggugat. menyaksikan rasa bersalahmu saat aku meminta alasan kenapa dan kenapa.

siapa yang tega saat aku atau kamu?
Kita sama-sama tak berhatinya dibagian yang berbeda, tentu kau juga tak akan lupa bagaimana lakonmu beberapa musim lalu, yang hingga saat ini masih kusimpan sebagai cerita yang paling kering. tak usah lagi kau banyak bertanya tentangku, tentang hati dan perasaanku. kita bukan lagi kita, tapi sepasang langkah yang berjalan dengan berbeda, yang tidak ingin kubersamakan lagi. ini juga bagian maafku.

sekali lagi, tiada maksud memutus silaturrahim. aku mengerti betul perkara ini. sesekali aku terbaring menatap langit-langit kamarku yang terembes hujan, lalu berdiskusi dengan hatiku. ah betapa sesal mengapa terus kessal.
kau harus paham dengan perasaanku, jangan memaksa atau tampil seperti tanpa rasa dosa. aku masih butuh waktu untuk membalas dengan baik senyummu, aku ingin berkata yang baik saat membalas katamu, tanpa sesal pernah menyinggahi namamu.

Senyum Bapak Disecangkir Kopi

walau ini jelang malam, mataku masih berbayang
meraup-raup kenangan yang tertinggal kejauhan
melihat-lihat sejumput cerita dalam ingat
aku ingin membawanya pulang

dipersinggahan malam ada yang kusebut rindu,
termasuk senyum yang melengket dikepulan asap kopi
suara batuk yang mendawai didekat cangkir
atau semburan air dari tenggorokan tua

sebentuk tubuh yang kudapati dibalkon tiap pagi,
tertawa riang bersama burung yang pandai bernyanyi
menyeruput air hitam, sembari menggulung kertas isi tembakau
dikepalanya ada topi anyaman, sebentar lagi keladang

'mulailah meninggalkan kopi, kita harus sehat', pesan emak bertahun lalu.
hanya senyum, itu balasan bapak.