Wednesday, April 30, 2014
Sepertinya Tak Berjudul Lagi!
Tak tahu sebenarnya aku ingin menuliskan apa. Aku hanya mengikuti jari-jariku kali ini, hanya sekedar karena sedang ingin sekali menulis entah apa. tak ada yang istimewa dikepalaku, nah tebak deh bagaimana hariku tadi, Nothing spesial deh intinya. hehe
Oh iyya, ingat satu kejadian tadi malam, ada kakak yg lagi curhat katanya lgi sedang dalam masalah rumit, usianya jauh banget diatasku. Kupastikan aku menjadi pendengar yang baik untuknya, kau tahu apa yang aku katakan untuk semua curhatannya yang memang benar-benar lagi rumit itu?
aku bilang "kk, aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik sekalipun tidak mampu memberi solusi atas masalah", kalau orang yang gak sabaran mungkin udah ditabok akunya, panjang2 curhat hanya dapet sambutan seperti itu, tapi si kk itu sabar super deh dia cuma bilang "tapi apa kau yakin kk akan baik2 saja?"
Biasanya kalau berhadapan orang-orang yang lagi down begini, aku selalu tampil sebagai orang yang sok dewasa, sok ngerti banyak, tapi untuk malam tadi aku memilih menjadi pendengar saja, menyangkut soal rumahtangga aku selalu angkat tangan. bukan apa-apa sebenarnya, ngerasa gak berhak saja kalau harus menawarkan jalan keluar.
Oh iyya, ingat satu kejadian tadi malam, ada kakak yg lagi curhat katanya lgi sedang dalam masalah rumit, usianya jauh banget diatasku. Kupastikan aku menjadi pendengar yang baik untuknya, kau tahu apa yang aku katakan untuk semua curhatannya yang memang benar-benar lagi rumit itu?
aku bilang "kk, aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik sekalipun tidak mampu memberi solusi atas masalah", kalau orang yang gak sabaran mungkin udah ditabok akunya, panjang2 curhat hanya dapet sambutan seperti itu, tapi si kk itu sabar super deh dia cuma bilang "tapi apa kau yakin kk akan baik2 saja?"
Biasanya kalau berhadapan orang-orang yang lagi down begini, aku selalu tampil sebagai orang yang sok dewasa, sok ngerti banyak, tapi untuk malam tadi aku memilih menjadi pendengar saja, menyangkut soal rumahtangga aku selalu angkat tangan. bukan apa-apa sebenarnya, ngerasa gak berhak saja kalau harus menawarkan jalan keluar.
Tuesday, April 29, 2014
A K U ....
Inisialku "DA", aku akrab dengan panggilan "Dirma", yang entah bermakna apa. pernah beberapa kali aku mencari artinya dikamus namun tak kutemu dalam daftar kata yang ada, mungkin yang tahu artinya hanya Ibu atau mungkin juga ia hanya menyukai anaknya yang terakhir dipanggil begitu. Selain itu, oleh mereka yang mengenalku memiliki banyak panggilan untukku. Dira, Senja, Ra, Magadir . jadi terserah saja kalian mau memanggilku bagaimana :D
Aku adalah anak singkong yang belum lebih dari 21 tahun menapaki bumi ini. Tak ada yang istimewa dalam diriku, aku sama biasanya dengan orang biasa, bahkan lebih sederhana lagi. Kebiasaanku adalah menciptakan dunia fantasi, entahlah aku terlanjur suka bermain didunia khayal. terkadang aku mendapatkan hal-hal yang tak wajar, tidak masuk akal namun aku terlanjur menyenanginya. hehe..
Mungkin aku tipe yang tak mudah ditebak, aku sendiri kadang bingung yang mana sifat asliku :D . Terkadang aku sangat banyak bicara, dan bisa juga sangat diam. terkAdang sangat PD dan bisa juga tiba-tiba sangat pemalu. kuberi tahu pada kalian, biasanya dengan orang yang agak CALM aku cerewet, tapi dengan orang cerewet aku CALM.
Kata ibu dan saudara2ku aku ini keras kepala, kalau sudah bilang A gak bisa dipaksa ke B . Ya aku akui itu, tapi menurutku bukan begitu, terkadang ada beberapa hal yang menurutku memang tidak harus mengikuti kata orang lain, jika menurut kita benar ya lakukan saja. Tapi Aku ini orangnya mudah tersentuh, gak tegaan, aduuh kalau sudah persoalan hati ampun deh, gak mau ngedalemin pokoknya. hehe
Satu lagi, aku type yang sangat tertutup. serumit apapun masalah selalu kuendapkan di dada saja, sendirian lalu sampai pada waktu dimana semuanya akan tumpah ditelinga angin yang bisu, tapi aku sangat jujur dalam kata, aku tak akan berpura-pura jika sudah menuliskan sesuatu. jadi aku akan terbaca jelas disetiap tulisanku :)
Oh iyya, sejujurnya aku ingin lebih banyak bertatap wajah langsung dengan kalian semua, tapi ruang dan waktu sepertinya sangat membatasi kita, tapi kalian masih bisa menemuiku disini jadi apa salahnya sesekali kalian mampir mengetuk pintu gubuk kecilku ini. :)
Aku adalah anak singkong yang belum lebih dari 21 tahun menapaki bumi ini. Tak ada yang istimewa dalam diriku, aku sama biasanya dengan orang biasa, bahkan lebih sederhana lagi. Kebiasaanku adalah menciptakan dunia fantasi, entahlah aku terlanjur suka bermain didunia khayal. terkadang aku mendapatkan hal-hal yang tak wajar, tidak masuk akal namun aku terlanjur menyenanginya. hehe..
Mungkin aku tipe yang tak mudah ditebak, aku sendiri kadang bingung yang mana sifat asliku :D . Terkadang aku sangat banyak bicara, dan bisa juga sangat diam. terkAdang sangat PD dan bisa juga tiba-tiba sangat pemalu. kuberi tahu pada kalian, biasanya dengan orang yang agak CALM aku cerewet, tapi dengan orang cerewet aku CALM.
Kata ibu dan saudara2ku aku ini keras kepala, kalau sudah bilang A gak bisa dipaksa ke B . Ya aku akui itu, tapi menurutku bukan begitu, terkadang ada beberapa hal yang menurutku memang tidak harus mengikuti kata orang lain, jika menurut kita benar ya lakukan saja. Tapi Aku ini orangnya mudah tersentuh, gak tegaan, aduuh kalau sudah persoalan hati ampun deh, gak mau ngedalemin pokoknya. hehe
Satu lagi, aku type yang sangat tertutup. serumit apapun masalah selalu kuendapkan di dada saja, sendirian lalu sampai pada waktu dimana semuanya akan tumpah ditelinga angin yang bisu, tapi aku sangat jujur dalam kata, aku tak akan berpura-pura jika sudah menuliskan sesuatu. jadi aku akan terbaca jelas disetiap tulisanku :)
Oh iyya, sejujurnya aku ingin lebih banyak bertatap wajah langsung dengan kalian semua, tapi ruang dan waktu sepertinya sangat membatasi kita, tapi kalian masih bisa menemuiku disini jadi apa salahnya sesekali kalian mampir mengetuk pintu gubuk kecilku ini. :)
Saturday, April 26, 2014
Ilsutrasi Setangkai Mawar
Tidak semua kata mampu menyelesaikan maksud, Tapi Hidup tak harus putus karena Asa...
Jika mengharap bahagia, lalu kenapa memilih jalan yang curang?
Hey kawan, Lihat awan putih di atas, tidakkah ia harus menghitam demi memberi kehidupan penduduk bumi?
dan tidakkah kita harus di tempa demi kedewasaan? :)
percayalah ! masalah bukan musibah, tapi hadiah yang indah...
Jika mengharap bahagia, lalu kenapa memilih jalan yang curang?
Hey kawan, Lihat awan putih di atas, tidakkah ia harus menghitam demi memberi kehidupan penduduk bumi?
dan tidakkah kita harus di tempa demi kedewasaan? :)
percayalah ! masalah bukan musibah, tapi hadiah yang indah...
Musim Saja Berubah. Kenapa Aku Tidak??
Bahkan Musim kali ini benar-benar tak bisa kutahu nasibnya, kapan Ia bisa kusebut musim Kemarau? kapan bisa kusebut musim hujan? dan begitu Musim Semi?
Setidaknya aku tahu semua itu adalah musim pergantian, dimana Kemarau mengganti Hujan, dan Semi-pun menanti gilirannya. Lihatlah! Musim saja berubah, kenapa aku tidak?
Aku merasa bahagia dengan semua ini, perubahan yang belakangan kusebut kesederhanaan. sederhana dalam segala rasa, sederhana dalam segala tingkah. Mungkin Senja , Fajar, Bulan, Pohon juga dedaunan lebih memilih tersenyum ketika kini aku bukanlah yang mereka kenal dulu.
ya Rabb, jadikan kami pribadi yang lebih baik.... aamiin
Ter-Eja Dalam Bayang Senja
"sebenarnya Ini adalah Tulisan seorang gadis Aceh berinisial IRB"
Tahukah apa yang paling sulit hilang dari sebuah kenangan? Apakah kau mengira pahitnya hingga kau memeras harimu demi itu? kau kessal pada ingatanmu yang tak mudah kau rayu agar segera lupa? Bukan… bukan itu yang paling sulit hilang oleh setiap bait cerita yang pernah tercipta dimasa silam, bukan pahit disaat bersama atau saat berpisah namun bagian tersulit untuk hilang dari ingatan adalah serangkaian keindahan cerita demi cerita yang pernah tertoreh, saat tertawa bersama, menangis bersama, bertukar cerita sambil memetik bunga, juga saat memandang langit atau bulan atau bintang atau awan yang sama. Itulah sebenarnya menjadi bagian yg paling sulit hilang sekalipun kau berusaha keras untuk lupa.
Tahukah apa yang paling sulit hilang dari sebuah kenangan? Apakah kau mengira pahitnya hingga kau memeras harimu demi itu? kau kessal pada ingatanmu yang tak mudah kau rayu agar segera lupa? Bukan… bukan itu yang paling sulit hilang oleh setiap bait cerita yang pernah tercipta dimasa silam, bukan pahit disaat bersama atau saat berpisah namun bagian tersulit untuk hilang dari ingatan adalah serangkaian keindahan cerita demi cerita yang pernah tertoreh, saat tertawa bersama, menangis bersama, bertukar cerita sambil memetik bunga, juga saat memandang langit atau bulan atau bintang atau awan yang sama. Itulah sebenarnya menjadi bagian yg paling sulit hilang sekalipun kau berusaha keras untuk lupa.
Ketika sepi menyergap, malam seolah penjara,
tembok bisu hanya menjadi tempat untuk menumpah tatapan, dan suara jangkrik
menjadi melodi paling mendayu, saat itulah semua yang pernah berserak kembali
tersusun rapi diantara ingatan yang menolak. Semakin menolak, semakin ia
sempurna, kembali disaat pertama
mengucap janji, bertukar mimpi, hingga sampai pada janji terakhir untuk saling
melupakan. Malam yang semakin memburu siang tak lepas menjadi saksi atas mata
yang menampung jutaan rindu yang teringkari, hati bermunajat demi sepotong
kisah yg terhenti tanpa benci lalu masihkah semua harus dinamakan Luka? Masihkah harus menyumpah masa lalu?
Jangan! Sekali-kali jangan. Itu semua proses, itu semua ritme kasih sayang Tuhan.
Luaskanlah hatimu. Demi mengenang masa lalu yang tidak pernah dipaksakan.
***
Sore itu, entah apa yang memaksa
kakiku untuk memijak pasir pantai. Mungkin merindukan senja atau sekedar
menatap kumpulan awan putih. Pantai masih sepi. Aku duduk dibibir pantai,
bermain buih ombak dan menyapa lembutnya angin.
'Damai... Aku menyukai waktu seperti
ini'. Mataku lamat menatap hamparan awan, namun bulir-bulir langit tepat
mendarat di wajah sederhanaku
“Hujan panas” keluhku. Aku berlari mencari
tempat berteduh
"Ukhti, kemarilah" sapa
seseorang agak menjerit. Aku mencari nada lembut itu. Ia melambaikan tangan,
aku tersenyum dan sempurna berdiri dihadapannya.
“Kau baik2 saja?" tanya gadis
berkerudung Biru tua didepanku
"Ya.. terimakasih sudah
meneriakiku, J" jawabku sambil melempar senyum
sewajarnya.
“Dari tadi aku asyik menyaksikanmu diujung
sana" katanya teriring oleh telunjuknya yang lurus ketempatku bermain
barusan. Kurasakan air mukaku langsung memerah tomat. Senyumku simpul.
Gadis itu hanya tersenyum sebagai
jawaban yang harus kubaca sendiri, senyum lembutnya berhasil membuat senyum
maluku lebar mengembang..
Sedetik berikutnya aku
telah mendapati diriku duduk bersebelahan dengan gadis itu, berdua kami
berteduh disebuah rumah sederhana yang tak sempat kutahu pasti ukurannya.
Diantara kami tak terdengar suara walau sekedar berkenalan, dia membiarkanku
meneruskan diam, sesaat ia hanya menyajikan senyuman akrab mempersilakan aku
duduk nyaman disebelahnya.
Mataku lurus memandang,
dari dekat kusaksikan ombak pantai semakin kuat menghempas pasir. Perahu2 kecil
dua kali lipat terayun-ayun mengikuti ombak, beberapa anak kecil saling
mengejar, berlarian ditepi pantai tanpa perduli pada hujan yang mengetuk-ngetuk
kulit mereka. Sesaat aku menghela nafas yang tertahan sejenak, tanpa sadar aku
kembali menjejaki waktu yang sejatinya telah lama berlalu. Dipantai, ya
disinilah pernah terpahat sebuah cerita yang tak kutahu awal dan akhirnya, pun
begitu aku masih sempurna mengingat tiap inci cerita. Saat aku setia menjadi
pendengar akan kisah yang hendak terbagi, saat menikmati canda tawa dibawah
guyuran hujan, merelakan ombak menghempas tubuh kami lalu tertawa bersama,
menatap lekat pada sekumpulan bekas-bekas plastic yang membentuk serupa tikar
diatas air, juga memandang para nelayan dari kejauhan. Hembusan angin yang
menambar wajahku sukses membawaku pulang ke alam nyata, kuedarkan mataku mencari
apapun yang bisa kulihat, dan rupanya aku tak sendiri, gadis itu masih setia
duduk disampingku.
Dia masih tetap sama, senyumnya
melengkung ramah. Gadis itu, ku fikir sedari tadi Ia memperhatikanku (lagi).
"apa kau lapar, Ukhti?"
tanyanya memulai percakapan. Sontak pertanyaannya buatku tertawa renyah
"Aku punya beberapa bekal
makanan, temanilah aku makan?" pintanya lembut
"iyya boleh"jawabku sambil
nyengir kuda (kebetulan sekali aku mendadak lapar).
Dikeluarkannya kotak makanan berisi
perkedel jagung, dan kue pandan. Ada juga minuman kopi teh dan teh timun. Dan
sebagai hidangan pembukan diberikan aku sup buah. (lebih tepatnya buah-buahan
saja).
"ini serius sebanyak ini? Tanyaku mulai
cair, dia hanya tersenyum gemas, barangkali tanpa kusadari wajah polosku
datang.
Sejurus kemudian kami benar2 menikmati makan
sore ini, bersama hentinya air langit, matahari condong dibarat. Menemani kami
menyeruput minuman masing2. Entah dari mana Ia tahu bahwa aku menyukai kopi
teh. Iseng kutanyakan saja.
"Suka kopi teh? "
Senyum diawal
"tidak ukht, itu minuman
kesukaan temanku" jawabnya
"temanmu??" (uh, PD nya
aku diawal tadi)
"hm, iya..tadi kami janjian
bertemu di pantai ini, tapi karena alasan hujan ia menyerah menemuiku. Tadi dia
sempat mengabariku dan meminta maaf, padahal aku tahu dia memang tdk suka
hujan”
Gadis itu meneguk kembali teh timunnya sebelum
melanjutkan,
"sebenarnya bukan tidak suka
hujan, tubuhnya sangat lemah, terkena hujan sedikit saja langsung bersin2,
batuk, pilek, dan pusing2. Kalah keren sama anak2 pantai tadi”
Kulihat ia tersenyum, Aku masih
setia duduk dan menjadi pendengarnya
"Dulu sempat pulang dari pantai
ini juga kita hujan2an, eh sampai rumahku wajahnya langsung pucat, mendadak
dingin dan kaku. Itu kali pertama saya melihat dia menjadi 'aneh'. Setelah
kutelpon ibunya, ternyata ia alergi hujan" helaan nafas yang panjang
mengakhiri ceritanya. Tak lama berselang, dia melempar satu Tanya untukku
“kenapa?” pertanyaan singkat itu sukses
membuatku panik, aku tak tahu bagaimana wajahku saat ini, yang aku sadari bahwa
sedang tertahan titik-titik di kedua mataku namun kupastikan tak akan ada hujan
yang luruh dari keduanya. Aku tak berkata apapun, gelengan kepala kuangkat
sebagai jawaban.
“sepertinya kau sedang mengingat
sesuatu” lanjutnya menebak, aku diam untuk beberapa saat sebelum menjawab
“aku teringat temanku dulu, dia juga
sangat senang dengan hujan tapi sakitnya akan semakin parah jika terlalu lama
kebasahan” kalimatku ragu, namun aku tetap melanjutkan
“kami pernah hujan-hujanan dipantai
ini, waktu itu sebenarnya aku melarangnya keluar karena masih musim hujan, tapi
dia adalah gadis keras kepala, tetap memaksaku menemaninya kemari. Aku lalu
menawarkannya jas hujan, tapi dia bilang sedang ingin main basah-basahan,
sesekali tak mengapa katanya”
“lalu dimana dia sekarang?”
“entahlah”
Aku menyempatkan menyeruput kopi
tehku kembali, sedikit tertahan ditenggorokan. Sepertinya suaraku agak pecah
barusan.
“dia…”
gadis itu menggantung kata, bingung bagaimana harus menyambung Tanya.
“aku
tak tahu bagaimana kabarnya, entah dimana dia sekarang” kataku seperti mengadu
pada senja didepan sana, mataku lurus kedepan namun suara yang datang tetap
saja dari gadis disampingku.
“bagaimana
bisa seorang teman sampai tak tahu kabar temannya sendiri?”
Aku serasa dijatuhi vonis, kutelan
ludah yang serasa pil pahit. Aku menjawab tenang,
“dia
sendiri yang memintaku untuk tidak pernah menemuinya lagi, dia meminta agar aku
tak pernah mencari tahu tentangnya, bahkan dia memaksaku untuk lupa dengannya”
aku merentet kata demi kata seperti yang pernah kudengar dulu, aku hanya
mengulangnya.
“kalian
ada masalah?” tanyanya tuk kesekian kali. Aku melirik wajahnya, lalu menggeleng
sekali. Ya Tuhan, kuharap mataku tetap kering.
“Benar-benar
teman yang aneh”
Aku menahan tawa mendengar kata
“aneh”, dulu kata itu sempat kusematkan padanya.
“Aku
tak tahu persis apa yang membuatnya pergi, dia hanya bilang ini semua demi
kebaikanku tanpa sedikitpun kupahami maksudnya”
“kau
merindukannya?”
Aku kembali bisu, entah bagaimana
harus kujawab. Benarkah rindu? Bukankah ia juga memintaku untuk tak pernah
merindukannya? Aku memilih diam.
“apa…”
Sebelum kalimatnya tuntas, aku
mendahuluinya
“aku
akan menemuinya kembali, disurga”
Ucapku mengenang janji.
“apa?”
wajahnya jelas sekali heran, aku melemparkan satu senyuman.
“Bagi
kami persaudaraan bukan hanya sebatas didunia, tapi juga di akhirat kelak.
Tujuan kami adalah DIA, agar nanti tetap dipertemukan disurgaNYA. Jadi
perpisahan bukan berarti persaudaraan kami lantas usai, justru menjadi semangat
agar kelak bisa berjumpa kembali disana”
“baru kali ini aku mendengar ada
janji seperti itu” jujurnya, aku tak mengatakan apa-apa lagi. Kubiarkan dia
mengartikan sendiri arti dari janji kami itu.
Terdengar
desahan nafas lembut dari gadis itu. Seolah ia baru saja menyelesaikan tugas
mencari arti 'janji'ku. Kami masih diam, tatapan tetap lurus mengarah pada
senja yang hampir rata bersama laut,tinggal menyisakan semburat jingga.
"Indah
sekali bukan?" aku bersuara pelan
"Iya,
Aku selalu suka melihat sunset" jawabnya datar tetap tenggelam pada
romansa senja.
“kenapa?"tanyaku
sambil melirik wajah polosnya bersorot cahaya jingga. Senja dapat melembutkan
pandanganku. Saat tenggelamnya senja adalah saat rindu mulai dititipkan, rindu
yg berkecamuk serasa ikut bermimpi bersama senja diperaduannya, seperti makna “saat
semuanya hilang, baru terasa adanya.”
Aku tetap diam, berharap ia melanjutkan
perasaannya. Aku sangat suka berbicara tentang perasaan. Semua teralur dengan
ikhlas, tanpa ada kata yang sia terucap,
semua kata lahir dari sini, hati.
"Aku setuju, setelah perpisahan bukanlah
usai segala mimpi, masih ada surga yang menampung janji. -Sebab orang2 yg
mencintai karena Allah, mereka hanya berharap dan bertujuan padaNYA. Sabda
Rasulullah, tentu kau ingat juga bukan?” Ia menatapku sambil menggenggam tangan
dinginku, melanjutkan "Mu'adz bin Jabbal radhiyallahu 'anhu mengatakan,
Aku mendengar Rasulullah dalam sabdanya "Allah berfirman “Org2 yg bercinta
karena keagungan-Ku mereka dpat mimbar2 dari cahaya, sehingga para nabi dan
syuhada iri kepada mereka.'" (HR. Tirmidzi, shahih).
“Dan
salah satu nikmat persaudaraan karena Allah adalah seseorang akan dikumpulkan
bersama orang yg dicintainya." Senyum mengambang diantara kedua bibirnya,
matanya syahdu.
"Aku
tau, kau tentu sabar akan janji itu bukan?" Tanyanya sambil melepas
genggaman dan menunggu jawabanku.
"Bagaimana
mungkin tidak? Ibnul Qayyim rahimahumullah memaparkan secara sederhana. Sabar
bermakna timbulnya keyakinan yg kuat kepada janji Allah, Allah tidak akan mungkir
janji,. dgn sabar hati menjadi optimis bahwa Allah akan segera menyambut niat
dan keinginan tulus seorang hamba. Maka aku katakan, Aku akan menemuinya
kembali di surga nanti." jawabku mantap. Seketika hatiku menjadi luas,
seluas-luasnya atas jawabanku sendiri. Bukan bangga, namun aku percaya akan
janji itu. Senyumku ramah dari biasanya. Kutatap gadis berjilbab biru itu. Ia
tetap saja tersenyum, bahkan kali ini lebih manis.
Aku membalas dengan tulus sebelum kuputuskan kembali
menenggelamkan mata jauh kedasar laut, kubiarkan fikirku terbang semaunya
mencari apa yang sesungguhnya ingin ia temukan. Kutemukan diriku mencari arti
dari tiap derap langkah dimasa lalu.
Pada angin yang mampir
kubisikkan, siapapun yang pernah menyinggahi kotak hidupku sudah menjadi cerita
bab pertengahan dalam perjalananku, sedikitpun tak kuanggap kesalahan apatah
mengingkari pertemuan. Walaupun mungkin mereka yang pergi kini mengira aku telah
menyesalinya, sebab bagaimanapun manusia terbekali rasa yang menyadari apa yang
terjadi. Tapi sekali-kali tidak, kuanggap semua adalah takdir yang harus
berlaku tanpa penolakan, dan Tuhan mempercayakan aku untuk ikut memerankannya.
Apapun yang terjadi sekarang, kita sama-sama usai menjalankan peran kita
masing-masing dibagian takdir itu, kalaupun saat ini tak ada lagi ruang yang
menyatukan, kuharap penyesalan bukan menjadi pilihan. Bukankah orang yang
paling menderita adalah mereka yang tak mampu keluar dari penyesalan? Bukankah
orang yang paling lemah adalah mereka yang yang mengingkari takdir? Dan
bukankah orang yang memelihara benci ialah orang-orang yang tak pernah akan
merasakan merdeka?
pada mentari yang
menggandeng senja mengucap salam perpisahan pada siang menemaniku mengadu pada
Rabbku “Ya Rabb bebaskan kami dari rasa benci, lepaskan kami dari rasa yang
membuat kami berpecah belah, jadikanlah kami orang-orang yang mengharap
pertemuan dengan-MU, jadikanlah kami orang-orang yang saling menguatkan meniti
jalanMU, dan ku mpulkanlah kami bersama orang-orang Shaleh diJannahMU”
Tuesday, April 22, 2014
Rabb, Ajari Aku
Kumenatap dalam hati, hanya namaMU yang kudapati.
Rabb, inilah bentuk pengakuanku yang sejatinya Engkau paham walau hanya
kukekang dalam dada.
Telah sampai padaku bahwa ketentuanMU adalah keniscayaian juga kasih sayangMU,
maka ampuni ketika khilafku mendahului kejernian nalarku.
Rabb, ajari aku menerima luka tanpa melukai
ajariku menerima luka tanpa menyakiti
ajariku menerima kedzaliman tanpa mendzalimi
ajariku tentang khianat tanpa mengkhianati
ajariku arti ikhlas tanpa membenci
ajariku arti sabar tanpa mendengki
ajariku tetang kecewa tanpa mendendam
ajariku arti sederhana tanpa merendahkan
ajariku tersenyum tanpa mengingkari
pahamkan TakdirMU tanpa celaan jiwa lemahku...
Rabb... sayangi kami.
La ilaha Illallah....
Monday, April 21, 2014
Cerita Sunyi
Jika sanggup bercerita, maka lahir ribuan kata dari bibirnya. jika sanggup berkata
akan tumbuh benih aksara ditiap kedipan mata, mungkin tanya, atau iba atau mungkin juga
rasa yang tak mudah untuk dimengerti. adalah hati, yang mungkin masih menjadi sasaran semua
yang terjadi. tersimpan rapi, sampai kusut ia terus terendam disana.
adalah cinta, yang lahir dalam bahasa. entah akan ia temukan sebagai jawaban misteri ataukah
terus merahasia seperti angin dan musim yang tak menentu datangnya. Penantian telah menjadi sebaris kata yang bergantung pada lorong-lorong jalan, menciptakan cerita diantara keramaian kota, hingga pengharapan
lebih jelas dalam susunan-susunan cerita yang ia cipta sendirian dalam diam.
masih terdengar desah sebelum ia menguap, matanya seperti hujan yang jatuh kemarin. bening sekali,
seperti tengah berkaca mencari senyum yang bersembunyi dari rembulan. inilah yang paling sering terjadi, menumpah kisah lewat tatapan-tatapan yang renyah, kata hanya menjadi uap diujung bibir, kisah pahit entah manis menyatu bersama angin tanpa satu telingapun yang menjadi saksi.
adalah "kenangan", yang berhasil menjadi cerita paling sederhana dikacanya, juga dadanya sebelum sempat menjadi sabda. Tak jenuh semua terderet di buku-buku sunyi, berjalan membuka lembaran-lembaran lalu yang kini berdebu, hingga semua selesai pada mata yang mengucap pamit pada rembulan juga pekat malam...
Sahabat, sejatinya tak ada kisah yang pantas kita sesali. semua indah andaisaja kita serahkan pada hati yang tulus menerima... Wassalam
akan tumbuh benih aksara ditiap kedipan mata, mungkin tanya, atau iba atau mungkin juga
rasa yang tak mudah untuk dimengerti. adalah hati, yang mungkin masih menjadi sasaran semua
yang terjadi. tersimpan rapi, sampai kusut ia terus terendam disana.
adalah cinta, yang lahir dalam bahasa. entah akan ia temukan sebagai jawaban misteri ataukah
terus merahasia seperti angin dan musim yang tak menentu datangnya. Penantian telah menjadi sebaris kata yang bergantung pada lorong-lorong jalan, menciptakan cerita diantara keramaian kota, hingga pengharapan
lebih jelas dalam susunan-susunan cerita yang ia cipta sendirian dalam diam.
masih terdengar desah sebelum ia menguap, matanya seperti hujan yang jatuh kemarin. bening sekali,
seperti tengah berkaca mencari senyum yang bersembunyi dari rembulan. inilah yang paling sering terjadi, menumpah kisah lewat tatapan-tatapan yang renyah, kata hanya menjadi uap diujung bibir, kisah pahit entah manis menyatu bersama angin tanpa satu telingapun yang menjadi saksi.
adalah "kenangan", yang berhasil menjadi cerita paling sederhana dikacanya, juga dadanya sebelum sempat menjadi sabda. Tak jenuh semua terderet di buku-buku sunyi, berjalan membuka lembaran-lembaran lalu yang kini berdebu, hingga semua selesai pada mata yang mengucap pamit pada rembulan juga pekat malam...
Sahabat, sejatinya tak ada kisah yang pantas kita sesali. semua indah andaisaja kita serahkan pada hati yang tulus menerima... Wassalam
Cerita Penutup Hari
Ia masih dirinya yang kemarin, diamnya tak dapat dimaknai sebagai diam.
terkadang matanya bias, lalu menggantung tanya pada senja yang semakin lelah.
Saat warna langit semakin menua ia menebar senyum sempurna, namun sedetik berlalu
ada kristal yang menggantung didagunya.
Sendiri ia menatap langit yang saga, menatap dengan emosi yang tersisa.
Ada yang melekat dalam matanya, satu tatapan yang siap membunuhnya.
tatapan yang mengajakanya semakin singkat menjumlah waktu
Bukan ia mengingkari, tapi nafasnya telah erat terantai dalam kekalahan
Mungkin langit telah menertawakannya, dengan kemenangan warnanya yg kian menjingga
Sementara ia masih merenungi sebagian kisahnya yang terlewati
Terkadang, hasratnya kian berontak. hendak melakukan perjalanan
mencapai pelangi, barangkali separuh kisahnya berlabuh indah disana
namun bening diujung mata menyadarkannya pada kenyataan,
bahwa semuanya telah terkubur dalam.
Kini, meneruskan hidup baginya hanyalah hitungan mundur untuk sampai pada penghabisan
Nafas-nafas yang terhembus hanyalah desahan sederhana yang mencari ketentuan,
Hatinya tak lagi menyatu dengan kehidupan. jiwanya tak lagi hidup
dalam raga yang kian merenta.
Hidupnya tak lagi sempurna dalam perhitungannya,
Ada jejak-jejak yang kian menghilang, menjauh tak sudi pulang
mengucapkan pesan bahwa cerita cukup sampai disini...
#15 Maret 2014
Melatih_Penaku
Thursday, April 17, 2014
Tulisanmu Tentangku
Az, Lentera di Kaki Senja~
Dan tidak
perlu banyak isyarat untuk selalu memulai. Sore itu langit menawarkan
lukisannya. Tetap biru dengan rupa awan tak berbentuk, mereka berlaku abstrak,
sesuka hati melintas langit, saling sapa, senyum dan tetap santun. Yang melihat
dari Bumi pun turut damai. Yang dinamakan senja. Tampilnya di layar langit
barat. Membawa sejuta jingga, berbalut romansa rindu. Untuk sepersekian menit,
kembali keperaduan beruntut tasbih. Dan merangkul bunga Azalea. Adalah Senja
masih berdiri di Pantai Nirwana, matanya lekat menatap matahari, belum sempurna
menjadi senja. Angin menyapa hijabnya, tersenyum, dalam hati ia berkata
"Kemarau, datangkah engkau di Musim ini? Aku tak merindu apapun, tidak
dengan pohon kering, tidak juga angin lembut, apalagi daun yang jatuh. Aku
hanya ingin bergerak dengan kata "bebas"." Helaan nafasnya
panjang, sepanjang rindunya di ujung senja, yang (mulai) tertutup kelabu.
-MENDUNG- "akankah hujan? Atau malah mataku yang akan berhujan bersama
jiwa yang sekarat dipendam tanda tanya?
Yang kau katakan "menangislah
karena itu bahagia" lirihnya. Mendung menguasi langit barat. Namun senja
tetaplah senja, ia jingga sama seperti lentera. Lentera menerangi wajah senja
yg muram bersama pekatnya mendung.
"Ini Az, lentera untukmu di senja ini,
Ku ambil dari nama Azalea sebagai lambang keikhlasan. Walau mendung menyapu
senja, namun Az bisa tetap kau bawa untuk berjalan. Aku tau, banyak tempat yg
belum mampu kau tapaki, beriringlah bersama Az, maka senja menawan kau nikmati
dengan hati yang luas. Seluas padang Azalea. Az tidak pernah mengeluh menjadi
lentera, walau harus bermain bersama api. Baginya menerangi lebih indah. Azalea
pun demikian, tak pernah ragu menjadi bunga liar, yang tumbuh di bukit gersang.
Tak pedtlh walau tidak pernah ditanam apalagi disirami. Ia tak pernah takut
kehilangan, ia hadir bukan karena dihadirkan. Ia damai selama tak pernah merasa
mulia. Sebab, keikhlasan menjadikannya lebih berkesan."
Senja, Kau katakan "Ikhlaskan,
jika bayangnya menghampiri, tak usah marah atau malah menyalahkan. Sebab Kau
masih punya pilihan untuk selalu berdamai dengan hatimu, jiwamu, dan rasamu,
hingga oleh waktu ia akan pudar tanpa harus kau paksakan."
Senja, Kau
katakan "Apapun yang menjadi kegagalanmu dimasa lalu, masa depan tak
pernah berharap diabaikan. Apapaun yang menjadi kesakitanmu dulu, masa depan
tak pernah berharap diacuhkan. Bagaimanapun kepahitanmu dimasa lalu, masa depan
memintamu memaniskannya."
Kau ingat, bahwa hidup itu seperti minum teh.
"Jika kau minum teh pahit, maka teh itu pahit. Namun jika kau minum teh
manis, maka teh itu manis"
*** Senja, Aku hanya mampir berteduh diteras
rumahmu. Namun kau ramah menawarkan kue Panada dan Susu Coklat. Kau duduk
disampingku sambil bercerita tentang hujan. Namun yang kau suka adalah gerimis.
Ocehanmu begitu hangat, berkisah kejadianmu tentang LUPA. Lupa yang kau sebut
Anugerah. Lupa yg sudah melekat di jiwamu. Lupa adalah bahagia bagimu, saat yg
lain takut pada 'lupa'. Yang mengajarkan arti "untuk apa cemburu? Karena
kita tdk memiliki apapun/siapapun, melapangkan dada untuk lengan ditinggalkan,
berdamai dgn jiwa, hati, dan rasa beriring waktu, mengingat kematian dan jangan
menjadi sia-sia." Kukatakan, Damai jiwaku duduk denganmu. Karena kita
hanya bercerita tentang kita. Karena kita dipertemukan dengan makna
"perasaan" secara sederhana.
17 April 2014 Ketika langit biru ikut
berbicara. Senyum sapamu pagi itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)


