Wednesday, May 28, 2014

Kemarin ke Hari ini dan Besok

Malam bukanlah sekedar waktu melepas penat, tapi sesekali mejadi waktu untuk merenung, mengingat apa yang pernah terjadi dan apa yang akan terjadi esok. Masihkah kan sama ataukah akan tercipta baru?
Tak ada sesuatu yang bisa kusebut istimewa malam ini. Bintang-bintang hanya ada sekitar 6 dilangit, bulan entah mangkal dimana, langit masih mendung sisa hujan tadi sore. Tapi memang ada malam yang istimewa? yah paling kalau tidur dibawah jam 11 malam itulah yang istimewa untukku.

seperti biasa, saat orang-orang sudah terlelap mataku masih sempurna segar. Malam sudah larut, sepi sudah pasti, hanya ada deru kipas angin yang bernyanyi didinding lalu setumpuk buku-buku yang berantakan dimeja menjadi objek yang paling setia kupandangi.

Apa yang terfikir olehku saat sepi begini? Banyak! Tentang apa yang telah berlalu dan kulalui, tentang apa yang akan berlalu dan bagaimana termaknai.. seringkali diantara kita, terlebih (Aku sendiri) terlalu meremehkan sesuatu. Dan karena itu, tak jarang kita jadi melebih-lebihkan sesuatu pula.
              Hati yang sesak setia terpelihara, jiwa yang lilnglung terbiar, seolah hidup hanya tentang sulit dan juga butiran-butiran airmata. Padahal banyak hal yang lebih dari sekedar itu semua, yang mampu menggiring kita pada kedewasaan, kecerdasan serta kematangan dalam menyikapi hidup.
               Mungkin saat ini berfikir kita masih muda, masih waktunya untuk menikmati hidup. hura-hura, bergaya ala artis korea, bersantai dengan teman tanpa batasan. Majelis-majelis ilmu yang kita mampiri seolah tak memberi bekas sebagai bekal, nasehat-nasehat yang menghampiri seolah hanya angin yang numpang lewat. diterima di telinga kanan, keluar dikiri tanpa usaha memaknai. Lalu kapan kita akan merubah semuanya? Kapan? Tapi tunggu dulu, memangnya apa yang harus kita ubah?
              Dulu, ngumpul bareng teman-teman tak terkecuali laki-laki adalah hal yang paling menyenangkan, jalan bareng sambil katawa-ketiwi mendaki sebuah gunung, mengadakan pesta bakar-bakar ikan saat malam-malam, berboncengan dibelakang teman lelaki tanpa perduli dia bukan "mahram", berteriak tanpa rasa malu-malu, duduk berhimpitan tanpa rasa risih, menggandeng tangan tanpa rasa kaku, teleponan sambil cengengesan, sms-an tanpa sadar setiap kata ada yang menyaksikan. iyya, kita sungguh tak peduli semua itu.
bahkan Rohis tiap hari jum'at seolah hanya pengisi waktu karena masih betah disekolah, saat teman yang lain sedang khidmat mendengarkan nasehat kita masih nangkring dikantin dan mengikuti rohis saat sebentar lagi selesai, seorang Murobbiyah yang jauh-jauh datang demi membagi ilmu tak jarang kita bercerita dibelakangnya, "Ninja Hattory, atau Power Rangers", begitu seingatku dulu kita menertawainya karena wajahnya tertutup oleh selembar kain. Jujur saja, sedih jika mengingat itu semua.
                Tak sedikit apa-apa yang kita dengar darinya menjadi hal yang tertolak, kita selalu berkoar-koar "Kenapa sih harus begitu?", "Menurutku itu berlebihan", "Ah aku nggak setuju", padahal semua tak terlepas dari rasa sayangnya kepada kita yang bukan siapa-siapa baginya, rasa sayang seorang kakak yang telah menganggap kita sebagai adik-adiknya sendiri karena ALLAH.
             Pikiran kita memang terlalu sempit.  Melihat orang-orang seperti mereka, yang terlintas dikepala kita saat itu adalah 'Terlalu Ekstrim' sehingga kita membuat batasan sendiri terhadap mereka, ada rasa tak nayaman saat dekat, bisa dibilang berusaha menjauh. Juga saat melihat lelaki yang bercelana gantung yang belakangan kutahu mereka dipanggil "Ikhwan" kita selalu bertanya-tanya "Bagaimana cara mereka memaknai hidup ini y?" dan dibelakangnya kita berbisik "Banjir". ouh, sungguh malu aku pernah merapal-rapalkan itu semua.
              Tapi kawan, tidakkah waktu telah mengubah pola fikir kita yang kekana-kanakan menjadi dewasa, yang sempit menjadi terbuka lebar, yang tak tahu batasan pergaulan menjadi membatasi diri, dari yang abai pada ilmu agama menjadi semangat belajar ilmu syar'i, dari cemburu pada artis ngetop beralih pada cemburu pada orang-orang shaleh/shalehah.
Jadi apa yang harus kita ubah? = Semuanya. Semua yang sia-sia menjadi Yang berharga.
 Semoga ALLAH mengistiqomahkan kita setelah kita dihadiahkan petunjuk.

Thursday, May 22, 2014

Kuharap

Assalamu alaykum ayah.
Aku tak ingin bertanya kabar tentangmu, aku hanya ingin mendengar bahwa kau baik2 saja.
Dari cerita orang, kudengar kini Wajahmu kian menua, kekuatanmu semakin berkurang. Katanya kini kau tak lagi kuat mendaki gunung, jalanmu tertatih ketika berjalan kekebun, nafasmu terengah membabat rerumputan. Dan katanya, Kau selalu menghabiskan banyak waktu hanya untuk setangki air sewaktu menyemprot hama, padahal dulu aku yang kwalahan memenuhi kebutuhan airmu karena kau begitu gesit.
Ayah, katanya rambutmu sudah hampir seluruhnya putih, senyumanmu tak lagi gagah, suara batuk seolah nyanyian dari tenggorkanmu.
Katanya kau sudah tak lagi minum kopi, sepertinya ini cara yang bisa kau lakukan agar tubuhmu lebih tegar sebab tentu kau tak bisa menghilangkan kebiasaanmu merokok. Tapi setidaknya kau bisa berhenti minum kopi, itu jauh lebih baik.
Ayah, kata ibu saat kami menelepon kau selalu menguping disampingnya, kau ingin tahu dan mendengarkan suara kami, bahkan sesekali ibu mewakili pertanyaanmu dibalik telepon.
Ah, dari dulu kau selalu begitu, dingin! Kasih sayangmu tak terlihat kesungguhannya, tak terbaca tapi begitu jelas terasa.

Ayah, semoga ALLAH panjangkan usiamu, memberkahimu, dan menyehatkanmu selalu.

Aku Dan Kata

Bukan pada Bintang aku bertanya
bukan Pada Malam aku menanti
namun pada hati aku melirih
Aku membiarkanmu pergi
agar aku punya alasan untuk menanti
Aku merelakan hati menunggu
kan Kutimbang seberapa besar aku pada setia
Inilah adanya aku,
Tak tahu pasti arti mengkhianati khianatan


Do'aku Mencarimu (2)
Pagi telah datang membawa senyum merah-merah
malu-malu Menyapa dibalik daun berembun
Ada pesan ditangkai cemara depan rumah
Telah datang berita bahagia kah?

Tak terhitung pagi kunanti sebuah kabar
Malam tiba kutunggu pagi
pagi datang kutunggu malam
Kemana wajahmu kau sembunyikan?
adakah di Fajar saat ku terpulas?

Harusnya kurasai lelah telah terlalu lama
Tapi mimpi terus menyerbuk tak mengalah
Peradaban apa lagi harus kutunggu
Sedang kau tak pernah tau Do;aku Mencarimu !
(29-5-2014)
  "?"    (3)
Isi gelas-gelas terus terganti
tapi rasanya tak kunjung berubah
apakah kau memang sudah serupa serbuk kopi
hingga namamu terlalu pahit kuteguk tiap pagi?

Jika Hilangmu adalah luka
Seharusnya rindu bukan karibku
Tapi jika hilangmu adalah rindu
Maka haruskah kusebut kau luka?

Malam terlalu singkat untuk menang
Masih berderet namamu hingga subuh
Adakah suara kakimu yang melangkah itu?
Untuk kembali mengajakku shalat subuh?
(30-31 mei 2014)
Simponi Ilalang (3)
Sore ini kusaksikan daun-daun semakin hijau
senyum rerumputan bertambah tabah
simponi sang ilalang telah tumbuh dewasa
gemericik air di selokan tetangga riuh bernyanyi
perahu-perahu kertas berteduh diantara pohon-pohon besar tengah rawa
Merpati melepas penat di reranting
Tiba saatnya ku ucapkan selamat petang padamu
(15-mei-2014)

Semua Karena

Jauh-jauh hari sebelumnya sudah kubocorkan bahwa aku terlalu jujur dalam kata. Rasaku terlalu mudah tertebak melalui tulisan-tulisan yang kujejerkan, aku tak bisa menyembunyikan sesuatu jika sudah menderetkan ribuan anak kalimat. Dan karena itu aku selalu menahan diri saat hendak menulis, aku selalu menampung ribuan kata dibalik hati saja sebab tak jarang aku terlihat bodoh saat semua orang sudah membacaku. dan karena itu, kini aku memutuskan untuk lebih banyak diam saja, atau menuliskan sesuatu yang sejatinya tak kurasai sebab aku akan terlihat lemah saat menyampaikan perasaan lewat tulisan, dan sungguh ini sudah beberapa kali terjadi. karena terlalu setia pada perasaan, terlalu setia menuliskan keadaan aku dianggap *****, "Di*****", di*****, dan akhirnya... ah intinya aku tak ingin banyak bercerita lagi. Kukira hatiku mampu serupa dengan telaga untuk menampung semuanya, apapun itu tentangku bahkan mungkin juga tentangmu ,dia dan mereka!

Sunday, May 18, 2014

Kelasku Bioskop

Aku menuliskan ini dikelas, saat dosen usai menyatakan malas mengisi kelas kami. Aku mengambil posisi duduk dipojokan, seperti biasa saat tidak ada dosen maka kelas akan berubah menjadi counter game atau disulap menjadi bioskop gratis. Dan kali ini rupanya disulap menjadi bioskop, sudah pasti film yang diputar berjenis horror, aku melirik hanya sesekali, hanya ketika mendengar jeritan beberapa temanku yang berhasil terpengaruhi, bukan aku tak suka, bukan takut hanya saja menonton rame-rame rasanya tidak bisa kutemu seni horornya.

Udara terlalu panas untuk tetap tinggal dalam ruangan, aku memilih keluar dan duduk sendirian di luar, berteman NB dan terhibur ketukan-ketukan sepatu orang-orang yang lalu lalang.

                 Kalau sudah menyepi ditengah keramaian begini, yang paling indah hanyalah menimang-nimang imaji. Memutar kembali jejak-jejak yang tersimpan rapi di Kaset kehidupanku padahal ini belum sampai bulan Ramadhan. Biasanya aku menjenguk masa lalu hanya sekali setahun, begitu saran temanku. baiklah, aku harus segera menghentikan rekaman ini, lalu membuat tulisan baru dalam lembaran hatiku seperti ini

"Biarlah waktu bersaksi atas kekalahanmu,
Namun sesekali jangan Tampak bodoh dimata Dunia"


Saat Kelas Menjadi Bioskop..



Tuesday, May 6, 2014

Welcome, Musim Kemarau

Berapa lama aku harus belajar melukis tawa?
sedang waktu tak pernah melirik gurat rupaku
Berapa banyak musim harus kulalui hanya untuk berkata hal sama?
sedang pada dedaun jatuhpun tak sekali mampu ku berpura
Saban waktu, ini terus kutapak tanpa asa mendendam perputaran.
Mungkin mampu kunafikkan dengan "aku tak mengapa"
namun tidakkah aku terlahir terbekal sepotong hati?
Juga lugas kuuapkan "Aku baik-baik saja"
namun adaku tak sekedar jasad, bathin turut hadir menyertai namaku
Lalu Haruskah kukejar laju air disungai?
haruskah kutahan semua daun-daun gugur?
haruskah kupatah setiap duri mawar?
haruskah kutangkap angin yang mengintai?
haruskah kuretakkan kaca hingga tetap teretas kepalsuan?
owh, aku teharu melihat jiwaku yang tak lagi berselimut biru
rupanya bukan kata "maaf" yang ia nanti di awal Mei
namun setegas-tegas diri untuk mengucap
"Hatiku bukan Pembenci"....

Kutulis bersama senyum penuh kemenangan, melepas musim hujan berganti kemarau :)
melepas April, Welcome Summer season..

Sunday, May 4, 2014

NGAKU SAMA

Ini tentang aku dengan seorang gadis yang selalu datang dengan senyum manisnya... Katanya, kami diciptakan dengan banyak kesamaan, sama-sama berinisial "D", paling cocok saat duduk berdua bercerita tentang sebuah rasa, kami sama-sama suka bercerita tentang "rasa". tentang rasa apapun itu
kami punya banyak kesamaan, sama-sama suka tempat sepi, tempat-tempat yang sunyi, sama-sama suka melamun dan asyik dengan dunia sendiri...
sama-sama suka dengan pantai...
sama-sama suka memandangi langit ketika malam... menatap bulan dan menghitung bintang... nah ini dia yang jepret, katanya dia calon fotographer handal.. :D
kami sama-sama penikmat minuman, apa saja yg penting halal ...
tapi aku juga penikmat susu cokelat, banget :D
sama-sama suka dengan bulir-buliran dari langit, saat aku puas menikmati gerimis dia akan menikmati Deras hujan...
sama-sama gifo.. sama-sama narsis.
Dia ngakunya mirip Acha Septriasa
nah aku sendiri ngerasa mirip banget Lee Yo Won.. hahahay
Kami sama-sama pencinta perahu kertas...
Kami juga punya mimpi untuk punya rumah pohon, kami ingin duduk manis sambil bercerita disana..

kami sangat suka membicarakan daun, nah yang ini dia juga yang kerja.

kami punya mimpi untuk memiliki rumah pohon, duduk manis sambil bercerita disana seperti film (My Heart),Tapi sepertinya ini hanya mimpi.. hehe. Kami memang sama-sama suka bercerita tentang hal-hal yang gila. ehmm, dan perbedaan tentu saja ada... aku pecinta gelap dan dia menganggap itu kebiasaan yang aneh, Aku pelupa berat, dia yang rajin mengingatkanku, aku ini insomnia dan dia gak bisa nahan kantuk lama-lama, aku sedikit agak memaksa dan dia paling sering mengalah.

*berbahagialah ketika masih ada orang yang hadir dalam hidupmu lalu ia bersedia duduk disampingmu sekedar mendengarkan cerita-ceritamu, sekedar menggenggam tanganmu, sekedar menyaksikan tangismu lalu ia berani berkata "aku akan selalu ada untukmu" *


Telat Di Waktu Tepat

Aku ingat, saat pertama berjumpa. saat pertama bertukar cerita,
kau tawarkan hari yang indah, kuterima sekenanya.
tak kuharap besok kan temu lagi, kepergian adalah paling dekat dengan hidupku
tapi kau tetap tinggal, kau tetap disampingku
kau tahu sikap setiamu membuatku benci? aku marah ketika aku sadar tentangmu
aku marah ketika setiamu harus kuanggap pengganti,
aku benci ketika posisimu harus kuanggap bayang-bayang
keterlaluan sekali! kenapa datang tak jauh hari? kenapa baru sekarang?
kenapa baru sekarang membawa arti keikhlasan?
kenapa baru sekarang datang dengan kata luaskan hatimu?
kenapa baru sekarang merampungkan kata takdir?
kenapa baru sekarang bercerita tentang Jalur-jalur kehidupan?
kau telat mengajariku tentang cinta yang sederhana, kau telat bercerita tentang kasih harus sederhana,
kau telat memarahiku pada kasih yang salah, kau kau aku bersyukur akan adamu!

#dear Si gadis Polos
kau bukan pengganti, kau bukan bayang-bayang,
kau hal Baru....

Saturday, May 3, 2014

Dekapan Patah

Ini bukan tentang kalah, juga siapa yang gugur, terlebih apa yang hilang.
ini hanyalah sebuah bentuk ketetapan, mengubah yang memohon tetap sama.
ini bukan sunyi yang menampung rindu,
bukan juga rindu yang terwarnai sepi,
bukan sepi yang memeluk malam,
ini hanyalah sebuah ungkapan tentang segala rasa,
rasa yang tertatap tanpa tertangkap jauh,hadirkan semua yang hanya membayang.
Gelap berangkat sambil menyanyi, mencari siapa yang menanti juga tentang makna ratap-ratap sunyi
segelas Kisah mungkin sudah habis terminum waktu yang tak menjeda,
Membeku diantara hujan dan panas, disela musim yang berganti
semua masih ada, masih sempurna, hanya terganti oleh kenyataan
dan ooh rupanya ada dekapan patah sebelum memeluk rindu...