bukan Pada Malam aku menanti
namun pada hati aku melirih
Aku membiarkanmu pergi
agar aku punya alasan untuk menanti
Aku merelakan hati menunggu
kan Kutimbang seberapa besar aku pada setia
Inilah adanya aku,
Tak tahu pasti arti mengkhianati khianatan
Do'aku Mencarimu (2)
Pagi telah datang membawa senyum merah-merahmalu-malu Menyapa dibalik daun berembun
Ada pesan ditangkai cemara depan rumah
Telah datang berita bahagia kah?
Tak terhitung pagi kunanti sebuah kabar
Malam tiba kutunggu pagi
pagi datang kutunggu malam
Kemana wajahmu kau sembunyikan?
adakah di Fajar saat ku terpulas?
Harusnya kurasai lelah telah terlalu lama
Tapi mimpi terus menyerbuk tak mengalah
Peradaban apa lagi harus kutunggu
Sedang kau tak pernah tau Do;aku Mencarimu !
(29-5-2014)
"?" (3)
Isi gelas-gelas terus tergantitapi rasanya tak kunjung berubah
apakah kau memang sudah serupa serbuk kopi
hingga namamu terlalu pahit kuteguk tiap pagi?
Jika Hilangmu adalah luka
Seharusnya rindu bukan karibku
Tapi jika hilangmu adalah rindu
Maka haruskah kusebut kau luka?
Malam terlalu singkat untuk menang
Masih berderet namamu hingga subuh
Adakah suara kakimu yang melangkah itu?
Untuk kembali mengajakku shalat subuh?
(30-31 mei 2014)
Simponi Ilalang (3)
Sore ini kusaksikan daun-daun semakin hijau
senyum rerumputan bertambah tabah
simponi sang ilalang telah tumbuh dewasa
gemericik air di selokan tetangga riuh bernyanyi
perahu-perahu kertas berteduh diantara pohon-pohon besar tengah rawa
Merpati melepas penat di reranting
Tiba saatnya ku ucapkan selamat petang padamu
(15-mei-2014)
No comments:
Post a Comment