Jika esok aku tak juga datang, maka pahamlah bahwa
aku kau buat pulang dengan segenap lebam di hatiku.
Berkali-kali kukatakan padamu dulu, tapi kau tetap percaya
pada takdir yang kau raba.
Usahlah berpura tegar, aku pernah sesakit itu. Dan kau, lukamu
lebih lagi. Dengan cara apa kau berpura-pura tertawa? Sekuat apa
kau menahan sayatan-sayatan yang kuat membekas? Jika kau
berkata "Kuat", di mataku tak cukup untuk tetap bening. Aku, merasakan
apa yang berusaha keras kau menampiknya.
Bagaimanapun, kita percaya takdir Yang Maha Rahiim adalah
keniscayaan yang membuka kebahagiaan. Maka terimalah,
jikapun rindu tak mengizinkan seluruhnya, setidaknya biarkanlah
kenangan membawa dirinya pergi. Perlahan. Persis yang kau lakukan pagi itu,
sebelum semesta terjaga, kau membuang segala kenangan, lalu
membawa pulang sebagian yang kau tak lagi sanggup.
Tak mengapa, pelan-pelan saja.
Embun, Nafas seseorang yang mengintipmu di balik kota Makassar.
