Pagi ini aku tak menemukan secangkir air putih diatas meja
kamarku, gelas susu semalam yang tidak sempat kuhabiskanpun masih tak
berpindah. Mungkin kak Gadis masih tertidur, ia lupa dengan kebiasaannya yang
sngat menyayangiku. Pelan aku beranjak, menyibak gorden biru yang menutupi
jendela kamarku. Dengan cepat bau basah menyerbak kehidungku, aku lupa kalau
sekarang sudah memasuki bulan November. Musim hujan sudah tampak didepan mata.
Tetiba aku teringat dengan kak Gadis, perasaanku mendesak untuk menjumpainya.
Aku mengejar kekamarnya, mencari sosok kakak perempuanku. Disana kutemui ia
sedang menangis dilantai, menyelimuti tubuhnya dengan selimut biru pemberian
ibu saat ulangtahunnya tiga tahun lalu.
“Kak Gadis”, aku mendekatinya pelan-pelan, menyentuh
pundaknya beralaskan selimut. Ia hanya menggeleng, memberi isyarat agar aku tak
bertanya apapun. Ini bukan kali pertama aku melihat kak Gadis menangis
ketakutan seperti ini ketika hujan turun. Bahkan beberapa kali kak Gadis
histeris mendengar suara-suara hujan di genteng. Sampai sekarang aku tak tahu
kenapa kak Gadis sebegitu phobianya dengan hujan, bahkan melihat hujan dibalik
jendela kamar saja ia tidak sanggup.
“kakak jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa” aku mencoba
menenangkan, meniru cara ibu di musim hujan tahun lalu tapi Kak Gadis tetap
menangis, kedua tangannya menutupi daun telinga. Semakin aku menenangkan, kak
Gadis semakin merasa terganggu. Aku mengalah dan kembali kekamarku, membiarkan
kak Gadis menenangkan hatinya sendiri.
Kubuka daun jendela lebih lebar, hujan diluar semakin deras.
Aku terus memikirkan kakak perempuanku dan hujan yang sangat ditakutinya. Yang
aku tahu dulu kak Gadis tidak seperti ini, bahkan ia akan rela keluar
bermandikan hujan jika aku dan Dana, adik bungsu kami merengek ditemani bermain
hujan. Kami selalu menantikan saat-saat turunnya hujan, bermain kejar-kejaran
didepan rumah sambil mengajak kak Gadis bermain bersama kami. Basah kuyup tanpa
perduli kami akan pilek setelahnya. Terakhir kami bertiga bermandikan hujan
bersama adalah tujuh tahun yang lalu, saat usiaku masih Sembilan tahun. Ketika
itu Ayah dan Ibu sedang keluar kota, sementara kami tinggal bertiga dirumah.
Seperti biasa, ketika musim hujan Dana yang paling semangat bermanja kepada kak
Gadis agar menemaninya bermain diluar. Dan kali ini permintaannya agak
merepotkan, ia minta diajak keliling kompleks sambil menikmati tetesan deras
dari langit diatas motor. Aku sendiri terlanjur asyik bermain bersama
teman-temanku, lupa kalau bermain hujan diatas motor lebih asyik.
Hujan sudah mulai redah, aku sudah kedinginan didepan pintu
menunggu kak Gadis dan Dana pulang. Aku urung masuk sebelum mereka datang,
padahal Jika aku bercermin kupastikan bibirku sudah berubah biru, mataku pasti
memerah.
“cepat panggil Ayahmu, Ibumu” suara bapak-bapak seperti
sedang memerahiku, aku keheranann melihat beberapa orang yang datang berkumpul
didepan rumahku. Beberapa detik berlalu, aku baru sadar kalau kak Gadis dan
Dana sudah datang, mereka masing-masing digendongan dua bapak-bapak yang tidak
kukenal. Aku melhat dengan jelas darah yang menetes dari kedua tubuh dalam
gendongan itu. Keduanya dibawa masuk, aku mengikuti puluhan orang yang
mengantar kakak dan adikku kekamar. Seorang ibu yang selalu kulihat tiap pagi
didepan rumah memelukku sambil menangis, aku sendiri masih bingung apa yang
sebenarnya terjadi. Kenapa kak Gadis dan Dana digendong sambil dari tubuhnya
menetes darah segar? Namun yang jelas sehari setelah itu orang-orang yang
datang semakin banyak. Dana, adikku satu-satunya seperti sebuah pajangan yang
ditaruh diruang tengah, tubuhnya ditutup kain kafan, darah dari hidungnya
sesekali masih keluar. Tangisan keluarga semakin nyata hari itu, Ibu menangis
sejadi-jadinya, Ayah untuk pertamakalinya kulihat embun berlarian dari matanya,
dan juga kak Gadis yang tidak sekalipun berhenti memanggil nama adik bungsunya,
Dana.
Aku masih berdiri didepan jendela
sambil menatap hujan saat kak Gadis masuk dengan kursi rodanya, ia membawa segelas
air putih dengan tangan yang bergetar. Aku melihat sendiri bagaimana gelas itu
bergoyang mengikuti getaran tangannya, segera kujemput dilubang pintu.
“terimakasih, kak” aku membantu kak
Gadis melewati daun pintu, aku meletakkan kursi rodanya disamping meja
belajarku.
“kakak
jadi kan ajarin Dena membuat origami?” aku mencoba mengajaknya santai,
memberinya senyuman mengajak bercanda, walau tetap saja ketakutan diwajahnya
tidak lepas. Sorot matanya tidak berpindah, terus menatap beban keluar jendela.
Aku mengerti perasaannya, segera kututup jendela dan menyibak gorden kembali.
“Kakak jangan berfikiran yang
aneh-aneh ya, tidak akan terjadi apa-apa” aku memeluknya dari belakang,
memastikan bahwa kejadian tujuh tahun silam tidak akan terjadi lagi. Lalu diam-diam
kupastikan irama indah yang tercipta diatas genteng tetap kunikmati, aku masih
Dena tujuh tahun yang lalu. Yang mencintai hujan lewat kenangan, dan mengenang
kenangan dengan hujan.









