Friday, November 14, 2014

Kak Gadis



Pagi ini aku tak menemukan secangkir air putih diatas meja kamarku, gelas susu semalam yang tidak sempat kuhabiskanpun masih tak berpindah. Mungkin kak Gadis masih tertidur, ia lupa dengan kebiasaannya yang sngat menyayangiku. Pelan aku beranjak, menyibak gorden biru yang menutupi jendela kamarku. Dengan cepat bau basah menyerbak kehidungku, aku lupa kalau sekarang sudah memasuki bulan November. Musim hujan sudah tampak didepan mata. Tetiba aku teringat dengan kak Gadis, perasaanku mendesak untuk menjumpainya. Aku mengejar kekamarnya, mencari sosok kakak perempuanku. Disana kutemui ia sedang menangis dilantai, menyelimuti tubuhnya dengan selimut biru pemberian ibu saat ulangtahunnya tiga tahun lalu.
“Kak Gadis”, aku mendekatinya pelan-pelan, menyentuh pundaknya beralaskan selimut. Ia hanya menggeleng, memberi isyarat agar aku tak bertanya apapun. Ini bukan kali pertama aku melihat kak Gadis menangis ketakutan seperti ini ketika hujan turun. Bahkan beberapa kali kak Gadis histeris mendengar suara-suara hujan di genteng. Sampai sekarang aku tak tahu kenapa kak Gadis sebegitu phobianya dengan hujan, bahkan melihat hujan dibalik jendela kamar saja ia tidak sanggup.
“kakak jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa” aku mencoba menenangkan, meniru cara ibu di musim hujan tahun lalu tapi Kak Gadis tetap menangis, kedua tangannya menutupi daun telinga. Semakin aku menenangkan, kak Gadis semakin merasa terganggu. Aku mengalah dan kembali kekamarku, membiarkan kak Gadis menenangkan hatinya sendiri.
Kubuka daun jendela lebih lebar, hujan diluar semakin deras. Aku terus memikirkan kakak perempuanku dan hujan yang sangat ditakutinya. Yang aku tahu dulu kak Gadis tidak seperti ini, bahkan ia akan rela keluar bermandikan hujan jika aku dan Dana, adik bungsu kami merengek ditemani bermain hujan. Kami selalu menantikan saat-saat turunnya hujan, bermain kejar-kejaran didepan rumah sambil mengajak kak Gadis bermain bersama kami. Basah kuyup tanpa perduli kami akan pilek setelahnya. Terakhir kami bertiga bermandikan hujan bersama adalah tujuh tahun yang lalu, saat usiaku masih Sembilan tahun. Ketika itu Ayah dan Ibu sedang keluar kota, sementara kami tinggal bertiga dirumah. Seperti biasa, ketika musim hujan Dana yang paling semangat bermanja kepada kak Gadis agar menemaninya bermain diluar. Dan kali ini permintaannya agak merepotkan, ia minta diajak keliling kompleks sambil menikmati tetesan deras dari langit diatas motor. Aku sendiri terlanjur asyik bermain bersama teman-temanku, lupa kalau bermain hujan diatas motor lebih asyik.
Hujan sudah mulai redah, aku sudah kedinginan didepan pintu menunggu kak Gadis dan Dana pulang. Aku urung masuk sebelum mereka datang, padahal Jika aku bercermin kupastikan bibirku sudah berubah biru, mataku pasti memerah.
“cepat panggil Ayahmu, Ibumu” suara bapak-bapak seperti sedang memerahiku, aku keheranann melihat beberapa orang yang datang berkumpul didepan rumahku. Beberapa detik berlalu, aku baru sadar kalau kak Gadis dan Dana sudah datang, mereka masing-masing digendongan dua bapak-bapak yang tidak kukenal. Aku melhat dengan jelas darah yang menetes dari kedua tubuh dalam gendongan itu. Keduanya dibawa masuk, aku mengikuti puluhan orang yang mengantar kakak dan adikku kekamar. Seorang ibu yang selalu kulihat tiap pagi didepan rumah memelukku sambil menangis, aku sendiri masih bingung apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kak Gadis dan Dana digendong sambil dari tubuhnya menetes darah segar? Namun yang jelas sehari setelah itu orang-orang yang datang semakin banyak. Dana, adikku satu-satunya seperti sebuah pajangan yang ditaruh diruang tengah, tubuhnya ditutup kain kafan, darah dari hidungnya sesekali masih keluar. Tangisan keluarga semakin nyata hari itu, Ibu menangis sejadi-jadinya, Ayah untuk pertamakalinya kulihat embun berlarian dari matanya, dan juga kak Gadis yang tidak sekalipun berhenti memanggil nama adik bungsunya, Dana.
Aku masih berdiri didepan jendela sambil menatap hujan saat kak Gadis masuk dengan kursi rodanya, ia membawa segelas air putih dengan tangan yang bergetar. Aku melihat sendiri bagaimana gelas itu bergoyang mengikuti getaran tangannya, segera kujemput dilubang pintu.
“terimakasih, kak” aku membantu kak Gadis melewati daun pintu, aku meletakkan kursi rodanya disamping meja belajarku.
                “kakak jadi kan ajarin Dena membuat origami?” aku mencoba mengajaknya santai, memberinya senyuman mengajak bercanda, walau tetap saja ketakutan diwajahnya tidak lepas. Sorot matanya tidak berpindah, terus menatap beban keluar jendela. Aku mengerti perasaannya, segera kututup jendela dan menyibak gorden kembali.
“Kakak jangan berfikiran yang aneh-aneh ya, tidak akan terjadi apa-apa” aku memeluknya dari belakang, memastikan bahwa kejadian tujuh tahun silam tidak akan terjadi lagi. Lalu diam-diam kupastikan irama indah yang tercipta diatas genteng tetap kunikmati, aku masih Dena tujuh tahun yang lalu. Yang mencintai hujan lewat kenangan, dan mengenang kenangan dengan hujan.

Wednesday, November 5, 2014

Tak Bermaksud

kalau ingin mendata satu persatu orang yang tidak pandai menemani kehidupan, aku khawatir namaku tertulis didalamnya. bagaimana mungkin, aku yang hampir tiap pekannya diingatkan tentang silaturrahim, tentang persaudaraan terjalin masih sangat kelu lida untuk berkata 'ya' memenuhi permintaanmu bertemu. bodohnya, aku selalu dengan susah payah mencari alasan untuk membatal perjumpaan. hanya karena satu hal yang sepele, Kecewa.

lalu adakah lantas aku harus menghindar? memutus dilaturrahim? aih, hatiku juga perih dibagian ini. siapa bilang aku bermaksud sekejam itu. tidak, sebenar tidak.
jangan berulang-ulang bertanya mengapa! aku hanya tidak tega melihatmu dengan perasaan benci, menatapmu dengan mata yang menggugat. menyaksikan rasa bersalahmu saat aku meminta alasan kenapa dan kenapa.

siapa yang tega saat aku atau kamu?
Kita sama-sama tak berhatinya dibagian yang berbeda, tentu kau juga tak akan lupa bagaimana lakonmu beberapa musim lalu, yang hingga saat ini masih kusimpan sebagai cerita yang paling kering. tak usah lagi kau banyak bertanya tentangku, tentang hati dan perasaanku. kita bukan lagi kita, tapi sepasang langkah yang berjalan dengan berbeda, yang tidak ingin kubersamakan lagi. ini juga bagian maafku.

sekali lagi, tiada maksud memutus silaturrahim. aku mengerti betul perkara ini. sesekali aku terbaring menatap langit-langit kamarku yang terembes hujan, lalu berdiskusi dengan hatiku. ah betapa sesal mengapa terus kessal.
kau harus paham dengan perasaanku, jangan memaksa atau tampil seperti tanpa rasa dosa. aku masih butuh waktu untuk membalas dengan baik senyummu, aku ingin berkata yang baik saat membalas katamu, tanpa sesal pernah menyinggahi namamu.

Senyum Bapak Disecangkir Kopi

walau ini jelang malam, mataku masih berbayang
meraup-raup kenangan yang tertinggal kejauhan
melihat-lihat sejumput cerita dalam ingat
aku ingin membawanya pulang

dipersinggahan malam ada yang kusebut rindu,
termasuk senyum yang melengket dikepulan asap kopi
suara batuk yang mendawai didekat cangkir
atau semburan air dari tenggorokan tua

sebentuk tubuh yang kudapati dibalkon tiap pagi,
tertawa riang bersama burung yang pandai bernyanyi
menyeruput air hitam, sembari menggulung kertas isi tembakau
dikepalanya ada topi anyaman, sebentar lagi keladang

'mulailah meninggalkan kopi, kita harus sehat', pesan emak bertahun lalu.
hanya senyum, itu balasan bapak.

Sunday, October 12, 2014

MASA LALU HARUS TAHU MALU

"Bagaimanapun hidup hanyalah cerita. Cerita tentang meninggalkan dan ditinggalkan"
tiba-tiba aku teringat potongal lagu berjudul "Cinta" malam ini.
benar, tentang hal meninggalkan dan ditinggalkan adalah cerita panjang dalam kehidupan.
dan bagaimanapun semua hanya sebuah cerita. ditunaskan, dirawat atau mungkin dikemas dan dibuang.

Percaya atau tidak, Bahwa kitalah peramu kehidupan atau sah saja jika kau mengatakan kehidupan telah meramu kita.
Seperi langit, usai ia bercahaya tubuhnya menangis.
seperti kembang, usai keindahannya saat layu ditangkainya.
juga senja, ia terusaikan oleh telanan malam.

bahwa hidup, tak ada cerita yang benar-benar indah kecuali mengindahkannya saat ia masih ada. kita masih bisa membawa ia kemana-mana, mengemasnya dalam ransel kenangan, menyimpannya dalam toples kaca. maka sekali lagi cerita hanya akan menjadi kenangan.

tapi tidak bagi yang terlalu mudah merusak cerita, ia tidak akan memiliki apa-apa. ia hanya akan menjadi masa lalu yang tidak bernilai, hanya akan menjadi mantan orang penting dan menjadi orang yang sangat tidak penting hari ini.

Kemarilah, akan kuceritakan bahwa aku tak sekedar menulis semua diatas.

Sunday, August 24, 2014

Saya, Kamu juga Kata-Kata

Embun

gapai semua jemariku
rangkul aku dalam bahagiamu
ku ingin bersama, selamanya
jika kubuka mata ini
ku ingin kau selalu disini
dalam kelemahan hati ini, bersamamu aku tegar.

Daun

Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu 
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu 
Karena langkah merapuh tanpa dirimu 
Karena hati telah letih

Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau rindu
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu merindumu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
Oh……..Bayangmu seakan-akan...

Kau seperti nyanyian dalam hatiku 
Yang memanggil rinduku padamu
Kau seperti udara yang kuhela, selalu ada
Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang 
Tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi
Jangan kau pergi tinggalkanku
tetaplah disini temaniku sendiri
sebab. walau ragamu nanti mati
walau hatimu tak kembali namun
hatiku, tetap utuh mengenangmu disini
seperti ucapnya, ini fleksible... 

Saturday, August 9, 2014

bla bl bla...

tentangnya banyak hal yang ingin kutuliskan... berlembar-lembar, berpuluh-puluh halaman, ribuan kata, tapi ketika kutuliskan hal yang me******** tentangnya aku berhenti. menyerah. seharusnya masih banyak yang harus ku koma, namun kudahului dengan titik. selesai sudah!

hal lama tidak akan lama jika terus disimpan, diingat. mari di buang!

Saturday, July 19, 2014

IMAM muda itu ternyata Kamu, dek

Dek, empat tahun lalu kulihat kau masih berseragam putih-biru, masih sangat belia. usiamu bisa dikatakan usia pencarian jati diri, dan kau sama dengan teman-teman sebayamu, bahkan bisa dibilang diantara mereka kaulah yang paling 'bandel'. tiap hari kerjamu datang kerumah, bermain ps, tidur2an, menghisap rokok dengan sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan orang tuamu. setiap Ibuku memarahimu, kau hanya tersenyum, walaupun dipaksa ke sekolah kau tetap menolak dan akan kembali kerumahmu setelah teman-temanmu pulang dari sekolah.
malam ini, adalah kali pertamanya melihatmu kembali setelah empat tahun itu berlalu. Setengah percaya aku mendengarkanmu memanggil kami untuk shalat, suaramu begitu merdu. aku berbisik pada ibu di antara jamaah tarwih malam ini "Bu, lihta itu Sarwan", sepertinya Ibu juga sama denganku, sedikit tidak percaya "Suaranya bagus ya Bu". sambungku. melihatmu di dalam masjid, rasanya senang sekali, sungguh.
dan lebih dari itu, masya Allah kau berdiri di shaf paling pertama. menjadi Imam shalat malam ini. Awalnya aku tidak percaya itu kamu dek, tapi aku benar-benar melihatmu, mendengarmu di empat shaf dibelakangmu. tak terasa, ada sepasang mata menangisi kejutan yang sangat mulia ini. dek, semoga Allah mengistiqomahkanmu di jalanNYA.
jika ALLAH sudah berkhendak, maka siapakah yang bisa menolaknya?
begitupun dirimu, menjemput hidayah diusia yang masih sangat muda.

Thursday, July 17, 2014

Hati-Hati Menyakiti Hati !

16-07-2014
Pagi yang dingin, berbau sisa-sisa hujan. memanjakan kulit-kulit cokelatku untuk tetap nyaman bersembunyi di dalam selimut tipisku. Hari ini adalah hari ke-18 dibulan ramadhan tahun ini. Aku memain-mainkan jemariku dalam selimut, sesekali menautkan kanan dan kiri memberi kehangatan, Ibu disampingku sudah tampak lebih cerah. tanpa bertanya Ibu bilang hendak ke pasar, aku tak bergeming. tidak berniat ikut, tidak juga memesan sesuatu. pagi itu, tanpa diminta Ibu bercerita perihal tetangga yang meninggal kemarin malam. sesekali aku membalas, menjawab jika Ibu bertanya.
"Dia itu orangnya baik sekali, dulu sewaktu orang lain benci sama Ibu dia tidak pernah berubah" Kenang ibu.
"Dulu, waktu ibu masih tinggal......" Aku melihat mata Ibu berkaca-kaca pagi ini, masa lalu Ibu ternyata sungguh pahit. Membayangkannya saja aku serasa teriris. Hati siapa yang tidak sakit kena Fitnah sekejam itu, dianggap penyebab kematian beberapa orang, suamipun sedang dalam rantau. secara tidak langsung ibu terusir dari kampung, akhirnya memilih pergi bersama anak-anaknya dari tanah bugis ke kampung orang Tolaki, mencari kampung lain di belantara Hutan. Sampai disana ibu masih belum terlepas dari mereka, orang-orang mengira ibu sudah mati karena kena karma. Kakek yang begitu tau kabar ini ingin memastikan kebenarannya, Beliau menyusul Ibu ke sana. Katanya kakek amat takut, kakek takut Ibu benar-benar sudah meninggal. selama ini, beliau yang selalu menguatkan Ibu. tiba dikampung Kakek tdak bertanya kepada siapapun, kakek ingin melihat langsung gubuk Ibu, dan ternyata kabar itu salah. Ibu masih hidup, sehat. Aku membayangkan perasaan Ibu saat itu, dianggap telah meninggal oleh keluarganya sendiri karena karma. Mata ibu berkaca-kaca, aku benar-benar menyaksikannya.
"Kalau misalnya kami menyambung silaturrahim sama mereka bagaimana? apa Ibu bolehkan?" Tanyaku.
"Tentu saja boleh, bagaimanapun mereka kan adik-adik dari bapakmu, tapi kalau Ibu ya takut. nanti dikira Ibu ada maksud jelek lagi, nanti ibu kena fitnah seperti dulu"
"Tapi ya kalian harus diam-diam, kalau ketahuan bapak pasti dia marah"
"Sebagian dari mereka sudah meninggal, ya semoga mereka tenang disana" Ibu menyambung, kudengar ada kata yang berat diantara kalimat itu.
"Itu kata-katanya ikhlas Bu?" tanyaku, berdua dengan kk Zen kami menikmati cerita ibu pag itu.
"ndak tau juga"
"kan sudah berpuluh-puluh tahu Bu', kalau terus-terusan sakit hati begitu ndak ada untungnya, lagian kalau kita maafkan dapat pahala" nada bicaraku sedikit menggoda,
"iyya memang, tapi .." Nafas ibu panjang. sudah berpuluh tahun fitnah itu terjadi tapi hati ibu ruupanya masih luka sampai sekarang. Ibu belum bisa mengikhlaskan, padahal sebagian dari mereka sudah terbaring di bawah tanah. tiba-tiba aku merasa takut, rupanya sangat mengerikan menyakiti hati orang. saat kita meninggal dan seseorang itu belum memaafkan, maka.... astaghfirullah. ya Allah ikhlaskan hati ibuku dan ampunilah mereka.
Cerita pagi ini selesai saat Ibu sudah bersiap ke pasar. sepeti biasa ibu menanyakan mau di belikan apa, kujawab sedikit bercanda,
"Bu' tahun ini sya ndak usah di kasih hadiah lebaran. hadiahku itu cukup ibu memaafkan mereka semua" Ibu tidak menjawab, berlalu pergi...
Rabb, ikhlaskan hati ibuku.. aamiin

Friday, July 11, 2014

GALAU

Tahun ini adalah tahun pertama bagiku untuk ikut memilih pemimpin negara. dulu, setiap pemilu presiden selalu menjadi hal menarik bagiku, aku seperti sedang melihat orang-orang yang hendak merayakan hari lebaran, orang-orang rumah akan bangun pagi untuk bersiap-siap ke TPS, berdandan, dan memakai baju baru. yang kufikirkan saat itu tentu sangat menyenangkan, rama-ramai datang ke TPS dan memilih calon andalannya masing-masing, dan tahun ini aku tidak hanya sekedar menjadi penonton. dan ternyata inilah yang terjadi, tidak seperti yang kubayangkan selama ini. aku bingung, aku takut. benar-benar bingung dan takut. saat mendekati pemilu, aku mencoba mencari tahu tentang kedua putra terbaik bangsa Indonesia itu. Sangat banyak pemeberitaan tentang keduanya, mulai dari keunggulan sampai pada keburukan masing-masing. ini benar-benar membuatku takut salah memilih, sungguh ini bukan hal sepele melainkan nasib Indonesia yang kan jadi taruhannya. ah siapakah yang harus kupilih diantara mereka?

1. Joko Widodo

saya tidak mengenal siapa bapak sebenarnya, hanya karena kemajuan teknologi hingga aku bisa mengenal wajah, suara dan kinerja bapak selama ini. media bilang bapak adalah sosok pemimpin yang sangat sederhana, berjiwa humoris dan merangkul semua golongan. bapak suka turun kejalan dengan istilah blusukan demi keakraban dengan masyarakat, mencari tahu tentang keperluan dan mendengar keluhan-keluahan masyarakat bapak. bapak juga masuk dalam daftar 50 tokoh terbaik dunia. sungguh jiwa kepemimpinanmu saya banggakan. ini adalah nilai plus untuk bapak, saya mencoba mencari informasi lain, kudapatkan berita miring tentangmu. katanya bapak adalah seorang muallaf, bapak adalah seorang Syi'ah, bapak memihak kepada kepentingan para nashara. naudzubillah, apa jadinya jika negaraku anda yang memimpin. namun tak ingin gegabah aku mencoba mencari informasi yang lebih akurat, dan rupanya ada titik terang yang kutemukan. di bulan april lalu ternyata IJABI telah mengadakan konferensi pers dan tegas menyatakan bapak bukan syi'ah. Semoga ini benar adanya, dan fitnah itu semoga Allah mengampuni kita semua. Belakangan saya tahu bahwa dibelakang bapak ada jaringan-jaringan yang siap menerkam indonesia. di dalam partai yang megusung bapak rupanya ada seorang pemimpin Syi'ah, Jil, dll. Mereka mengatakan bahwa jika bapak menjadi presiden maka otomatis seorang Jalaluddin Rakhmat akan menjadi menteri agama. tapi saya berfikir kembali, benarkah demikian? mengapa terlalu cepat mengambil kesimpulan, jika dia berhasil menduduki kursi DPR bukankah itu hak setiap orang tanpa memandang latar belakangnya? dan mengapa terlalu cepat yakin dia akan menjadi menteri agama sedang pilpres saja belum, apalagi menteri, rasanya jauh sekali. tapi pak, sama besarnya khawatirku dengan saudara-saudara musli lainnya, akupun merasa tak tenang. walaupun  aku meyakinkan diriku tentang pendapatku sendiri namun aku terlanjur khawatir, aku mencintai Islamku, mencintai Indonesiaku dan ah saya GALAU. tak hanya sampai disitu, di lain waktu Media kemudian memberitahukanku bahwa bapak telah meninggalkan jabatan bapak sebagai gubernur ibukota Jakarta dan mencalonkan diri sebagai presiden Indonesia. apa yang terjadi pak? kenapa meninggalkan jabatan dan memilih mendapatkan jabatan yang lebih tinggi dari itu? Saya mulai meragukan kekagumanku terhadap kepemimpinan bapak selama ini, sikap bapak seperti ini mencerminkan pemimpin yang tidak amanah bukan? Negaraku, negaramu ini butuh pemimpin yang amanah. saya semakin bingung, semoga Allah memberi petunjuk.

2. Prabowo Subianto
seperti halnya pak Jokowi, sayapun mengenal bapak hanya melalui media. jujur saja saya hanya tahu sedikit tentang bapak, berlatar belakang seorang militier dan berjiwa tegas. tak beda jauh dengan pak Jokowi, saya menemukan nama bapak sangat hangat di media, mulai dari yang sangat mengagumi sampai kepada yang sangat menjatuhkan. pak, sebagian orang bilang bahwa bapak haus kekuasaan, sangat berambisi mencapai jabatan sebagai orang nomor satu di negara ini tapi haruskah saya percaya tanpa bukti apapun? hanya dengan melihat tindak-tanduk bapak berbicara di lapangan? haruskah saya berkesimpulan sama seperti mereka hanya dengan menafsirkan sorot mata dan suara bapak yang terkesan keras itu? rasanya tidak adil, jika harus menilai seseorang dengan hal-hal seperti itu maka sungguh ayahkupun seorang lelaki yang berwatak keras dan bersuara tegas tapi buktinya saya menganggapnya beliau adalah lelaki yang paling hebat dalam kehidupanku. saya mencoba menggali informasi lain, kutemukan masa lalu bapak melalui media pula. pak, saya sedih mengetahui semuanya, tentang perlakuan bapak beberapa tahun silam saat bapak masih dibarisan militer. ah benarkah bapak demikian? karena tak ingin begitu saja percaya, kucari informasi lain dan kutemukan tulisan yang sangat bersinggungan dengan apa yang saya lihat sebelumnya. mana lagi yang harus saya percaya? saya GALAU.
saya ini memang calon pemilih yang ribet, terlalu banyak mengoreksi. lihat, diam-diam saya menyoroti cawapres bapak. pak Hattarajasa. teringat dengan kasus anak bapak setahunan lalu. entah sayakah yang terlalu sewot, tapi hati saya bilang seseorang yang menghilangkan nyawa dua orang tempatnya lebih pantas di penjara tapi buktinya anak bapak bebas begitu saja dan apalagi kalau bukan karena 'Tameng' yang bapak berikan? Pak, jujur saja saya berfikir yang aneh-aneh, merasa bapak bukan pemimpin yang adil. duuh, saya mulai berfikir untuk tidak memilih siapa-siapa. andaikan ada alternatif lain, mungkin saya tidak sebingung ini. sebagai warga negara indonesia, tentu saja saya sangat berharap mendapatkan pemimpin yang bijaksana. dikepala saya tiba-tiba muncul nama seorang "Abraham Samad", saya berkhayal namanya ada diantara kalian yang menjadi capres dan cawapres. meski tak tahu banyak tentangnya, namun pembuktian kerjanya selama menjadi ketua KPK membuat saya kagum.

aku mantap untuk tidak memilih siapapun, ini bukan persoalan mudah. saya harus mempertanggungjawabkan "pilihanku" kelak dihadapan ALLAH. dan apa jadinya jika aku memilih salah satu di antara kalian dan menjadi penyebab hancurnya masyarakat, agama dan Indonesiaku sendiri? hah, Zuudzon lagi!
tapi pagi-pagi saya berhasil terpengaruhi oleh kak Zen, katanya MUI memfatwakan yang tidak memilih sama saja mengerjakan hal yang haram. apa lagi ini? hah.. GALAU.
karena tidak tenang, segera aku bersiap-siap walau sudah hampir ketinggalan karena menolak ikut. tiba di kubuka lembaran kertas yang berisikan gambar ke empat calon pemimpin itu. entah yang mana yang harus saya pilih, dan bismillah saya memilihmu. dan astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah semoga ALLAH lah yang menggerakkan hatiku untuk memilihmu.
dan siapapun yang berhasil menjadi pemimpin, semoga Allah menuntunmu menjadi pemimpin yang amanah, jujur dan adil.
#Merindukan Khilafah

Monday, July 7, 2014

Semoga Kelak Aku Ke Sana

Berbicara tentang  Mesir , rasanya tak pernah membosankanku. mungkin aku terlalu menggilai Negeri 1000 menara itu..
Saking cintanya dengan Mesir, sewaktu masih SMA aku pernah membuat sebuah Novel setebal 300an yang seluruhnya berlatar Mesir, namun karena di tolak penerbit akhirnya novel itu kubuang entah kemana.. hhe. Dan kenal kan dengan Fedi Nuril? dia adalaha satu-satunya Artis Indonesia yang paling kusukai tiap actingnya, dan semua karena bermula dengan perannya sebagai Fachri dalam film AAC yang juga berlatar Mesir.

Ok daah, kita Mulai Berselancar ke Negeri Timur Tengah Itu...

 Cairo Ibu kota Mesir ini adalah kota terbesar di Afrika dan berpenduduk paling padat. Kairo juga sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam. Universitas tertua di dunia Al Azhar juga berada di Kairo. Bangunan rumah, gedung-gedung kuno sangat kental dengan arsitektur Islam. Julukan untuk Kairo adalah kota dengan 1000 menara. Karena masjid-masjid di Kairo minimal mempunyai 2 menara.


Hurghada adalah kota di Mesir yang terletak di Laut Merah dan terkenal dengan pantainya yang indah dengan pasir putihnya. Hurghada juga menawarkan tempat-tempat wisata yang didukung fasilitas yang baik. Di Hurghada terdapat banyak resort, hotel dan penginapan. Terumbu karang Pantai Hurghada dianggap yang paling indah di dunia. Hurghada juga menjadi pusat internasional olahraga air seperti selancar angin, berlayar, menyelam dan lainnya.



Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia dan sangat melegenda dimana Nabi Musa pernah dihanyutkan ke Sungai Nil hingga ditemukan oleh putri Firaun. Sungai Nil adalah jantung kehidupan penduduk Mesir. Kehidupan masyarakat Mesir bertumpu pada sungai Nil. Mulai dari sarana wisata, bendungan, pusat perekonomian, pertanian, perikanan, perhubungan dan lain sebagainya. Tidak salah apabila ada ungkapan yang menyebutkan, “Sungai Nil adalah hadiah untuk bangsa Mesir”.



Luxor adalah kota kuno di Heliopolis Selatan, di Luxor banyak terdapat situs sejarah Mesir Kuno seperti monumen kebohongan, reruntuhan kuil-kuil dan makam serta museum terbuka yang terbesar. Pariwisata menjadi tumpuan perekonomian penduduk Luxor.




Laut Merah disebut dalam kitab suci pada saat Nabi Musa membelah Laut Merah dengan tongkatnya. Saat itu Nabi Musa dan para pengikutnya bangsa Israel melarikan diri dari kejaran Firaun. Terusan Suez menghubungkan Laut Merah (Mesir) dengan Laut Mediterania. Laut Merah memiliki keanekaragaman hayati, terumbu karang, atol dan kadar garam yang tinggi. Walaupun banyak spesies berbahaya di laut Merah, tetapi tidak menyurutkan para penyelam untuk menikmati keindahannya.





 Alexandria atau Al Iskandariyya adalah kota terbesar kedua di Mesir dan salah satu kota paling terkenal di dunia. Di Alexandria terdapat sphinx dan teater Romawi kuno. The Great Lighthouse masuk dalam 7 Keajaiban Dunia. Banyak wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi Alexandria karena tempatnya yang sangat indah.


 

Mesir hampir identik dengan piramid dan sphinx yang dimilikinya. Ada lebih dari 80 piramid di Mesir, dan piramida yang terbesar adalah Piramida Agung Giza dan Sphinx Agung adalah shpinx yang terbesar. Di dalam piramida terdapat mumi atau jasad raja-raja yang diawetkan, sedangkan sphinx adalah patung singa berkepala manusia. Piramida dan sphinx di Mesir membuktikan struktur buatan manusia yang tertinggi di dunia yang menyimpan banyak misteri.

Gunung sinai adalah puncak tertinggi di kota Saint Kahterine’s. Gunung Sinai banyak dikunjungi para turis, karena di gunung inilah Nabi Musa mendapat wahyu dari Allah, yaitu 10 perintah Allah yang diberikan untuk bangsa Israel. Di puncak Sinai juga berdiri sebuah masjid dan gereja, dan banyak pendaki yang tertarik menuju puncaknya.



Benteng qaitbay ni adalah satu-satunya benteng yang mampu menahan dan menghancurkan serangan pasukan mongol pada abad ke-13. Ketika itu dinasti mamluk  dinamakan seperti itu karena disini memiliki sistem kerajaan yang berbeda. Jika pewarisan tahta dalam kerajaan-kerajaan lain menggunakan nasab atau keturunan, disni budak sekalipun bisa menjadi raja, dan budak sendiri berhak pula atas pendidikan. Raja Qaitbay sendiri dulunya adalah seorang budak.



Perpustakaan Alexandria yang sekarang, bukan perpustakaan yang dulu yang konon katanya menjadi perpustakaan terbesar di zamannya. Perpustakaan ini dulu menyimpan ribuan lembaran-lembaran papirus. Namun kini hanya menjadi pajangan museum di dalamnya. Lenyapnya semua itu ada yang berpendapat karena Julius Caesar ketika membakar kota ada lembaran-lembaran yang ikut terbakar.