Tahun ini adalah tahun pertama bagiku untuk ikut memilih pemimpin negara. dulu, setiap pemilu presiden selalu menjadi hal menarik bagiku, aku seperti sedang melihat orang-orang yang hendak merayakan hari lebaran, orang-orang rumah akan bangun pagi untuk bersiap-siap ke TPS, berdandan, dan memakai baju baru. yang kufikirkan saat itu tentu sangat menyenangkan, rama-ramai datang ke TPS dan memilih calon andalannya masing-masing, dan tahun ini aku tidak hanya sekedar menjadi penonton. dan ternyata inilah yang terjadi, tidak seperti yang kubayangkan selama ini. aku bingung, aku takut. benar-benar bingung dan takut. saat mendekati pemilu, aku mencoba mencari tahu tentang kedua putra terbaik bangsa Indonesia itu. Sangat banyak pemeberitaan tentang keduanya, mulai dari keunggulan sampai pada keburukan masing-masing. ini benar-benar membuatku takut salah memilih, sungguh ini bukan hal sepele melainkan nasib Indonesia yang kan jadi taruhannya. ah siapakah yang harus kupilih diantara mereka?
1. Joko Widodo
saya tidak mengenal siapa bapak sebenarnya, hanya karena kemajuan teknologi hingga aku bisa mengenal wajah, suara dan kinerja bapak selama ini. media bilang bapak adalah sosok pemimpin yang sangat sederhana, berjiwa humoris dan merangkul semua golongan. bapak suka turun kejalan dengan istilah blusukan demi keakraban dengan masyarakat, mencari tahu tentang keperluan dan mendengar keluhan-keluahan masyarakat bapak. bapak juga masuk dalam daftar 50 tokoh terbaik dunia. sungguh jiwa kepemimpinanmu saya banggakan. ini adalah nilai plus untuk bapak, saya mencoba mencari informasi lain, kudapatkan berita miring tentangmu. katanya bapak adalah seorang muallaf, bapak adalah seorang Syi'ah, bapak memihak kepada kepentingan para nashara. naudzubillah, apa jadinya jika negaraku anda yang memimpin. namun tak ingin gegabah aku mencoba mencari informasi yang lebih akurat, dan rupanya ada titik terang yang kutemukan. di bulan april lalu ternyata IJABI telah mengadakan konferensi pers dan tegas menyatakan bapak bukan syi'ah. Semoga ini benar adanya, dan fitnah itu semoga Allah mengampuni kita semua. Belakangan saya tahu bahwa dibelakang bapak ada jaringan-jaringan yang siap menerkam indonesia. di dalam partai yang megusung bapak rupanya ada seorang pemimpin Syi'ah, Jil, dll. Mereka mengatakan bahwa jika bapak menjadi presiden maka otomatis seorang Jalaluddin Rakhmat akan menjadi menteri agama. tapi saya berfikir kembali, benarkah demikian? mengapa terlalu cepat mengambil kesimpulan, jika dia berhasil menduduki kursi DPR bukankah itu hak setiap orang tanpa memandang latar belakangnya? dan mengapa terlalu cepat yakin dia akan menjadi menteri agama sedang pilpres saja belum, apalagi menteri, rasanya jauh sekali. tapi pak, sama besarnya khawatirku dengan saudara-saudara musli lainnya, akupun merasa tak tenang. walaupun aku meyakinkan diriku tentang pendapatku sendiri namun aku terlanjur khawatir, aku mencintai Islamku, mencintai Indonesiaku dan ah saya GALAU. tak hanya sampai disitu, di lain waktu Media kemudian memberitahukanku bahwa bapak telah meninggalkan jabatan bapak sebagai gubernur ibukota Jakarta dan mencalonkan diri sebagai presiden Indonesia. apa yang terjadi pak? kenapa meninggalkan jabatan dan memilih mendapatkan jabatan yang lebih tinggi dari itu? Saya mulai meragukan kekagumanku terhadap kepemimpinan bapak selama ini, sikap bapak seperti ini mencerminkan pemimpin yang tidak amanah bukan? Negaraku, negaramu ini butuh pemimpin yang amanah. saya semakin bingung, semoga Allah memberi petunjuk.
2. Prabowo Subianto
seperti halnya pak Jokowi, sayapun mengenal bapak hanya melalui media. jujur saja saya hanya tahu sedikit tentang bapak, berlatar belakang seorang militier dan berjiwa tegas. tak beda jauh dengan pak Jokowi, saya menemukan nama bapak sangat hangat di media, mulai dari yang sangat mengagumi sampai kepada yang sangat menjatuhkan. pak, sebagian orang bilang bahwa bapak haus kekuasaan, sangat berambisi mencapai jabatan sebagai orang nomor satu di negara ini tapi haruskah saya percaya tanpa bukti apapun? hanya dengan melihat tindak-tanduk bapak berbicara di lapangan? haruskah saya berkesimpulan sama seperti mereka hanya dengan menafsirkan sorot mata dan suara bapak yang terkesan keras itu? rasanya tidak adil, jika harus menilai seseorang dengan hal-hal seperti itu maka sungguh ayahkupun seorang lelaki yang berwatak keras dan bersuara tegas tapi buktinya saya menganggapnya beliau adalah lelaki yang paling hebat dalam kehidupanku. saya mencoba menggali informasi lain, kutemukan masa lalu bapak melalui media pula. pak, saya sedih mengetahui semuanya, tentang perlakuan bapak beberapa tahun silam saat bapak masih dibarisan militer. ah benarkah bapak demikian? karena tak ingin begitu saja percaya, kucari informasi lain dan kutemukan tulisan yang sangat bersinggungan dengan apa yang saya lihat sebelumnya. mana lagi yang harus saya percaya? saya GALAU.
saya ini memang calon pemilih yang ribet, terlalu banyak mengoreksi. lihat, diam-diam saya menyoroti cawapres bapak. pak Hattarajasa. teringat dengan kasus anak bapak setahunan lalu. entah sayakah yang terlalu sewot, tapi hati saya bilang seseorang yang menghilangkan nyawa dua orang tempatnya lebih pantas di penjara tapi buktinya anak bapak bebas begitu saja dan apalagi kalau bukan karena 'Tameng' yang bapak berikan? Pak, jujur saja saya berfikir yang aneh-aneh, merasa bapak bukan pemimpin yang adil. duuh, saya mulai berfikir untuk tidak memilih siapa-siapa. andaikan ada alternatif lain, mungkin saya tidak sebingung ini. sebagai warga negara indonesia, tentu saja saya sangat berharap mendapatkan pemimpin yang bijaksana. dikepala saya tiba-tiba muncul nama seorang "Abraham Samad", saya berkhayal namanya ada diantara kalian yang menjadi capres dan cawapres. meski tak tahu banyak tentangnya, namun pembuktian kerjanya selama menjadi ketua KPK membuat saya kagum.
aku mantap untuk tidak memilih siapapun, ini bukan persoalan mudah. saya harus mempertanggungjawabkan "pilihanku" kelak dihadapan ALLAH. dan apa jadinya jika aku memilih salah satu di antara kalian dan menjadi penyebab hancurnya masyarakat, agama dan Indonesiaku sendiri? hah, Zuudzon lagi!
tapi pagi-pagi saya berhasil terpengaruhi oleh kak Zen, katanya MUI memfatwakan yang tidak memilih sama saja mengerjakan hal yang haram. apa lagi ini? hah.. GALAU.
karena tidak tenang, segera aku bersiap-siap walau sudah hampir ketinggalan karena menolak ikut. tiba di kubuka lembaran kertas yang berisikan gambar ke empat calon pemimpin itu. entah yang mana yang harus saya pilih, dan bismillah saya memilihmu. dan astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah semoga ALLAH lah yang menggerakkan hatiku untuk memilihmu.
dan siapapun yang berhasil menjadi pemimpin, semoga Allah menuntunmu menjadi pemimpin yang amanah, jujur dan adil.
#Merindukan Khilafah
No comments:
Post a Comment