Sunday, December 27, 2015

Jika Kamu Bersedih

suatu saat jika kamu bersedih, bersabarlah. bersabarlah.
ingat Jannah. ingat jannah.
#pesan23dessember
#senyum

Thursday, December 10, 2015

BERAT

Ya Allaah... mudahkanlah mudahkanlah, angkatlah angkatlah.
Bantulah bantulah. Hilangkan penghlangnya.
Aamiin

Wednesday, December 2, 2015

SEMOGA ALLAH MENGUATKAN KITA

Awalnya kukira akan sangat banyak air mata,
tapi ternyata harapan lah yang lebih banyak bermunculan.
Telah kupikir-pikir kembali : Hal apa yang harus membuatku menangis dan bersedih?
Bukankah setelah kau memutuskan itu, menjadi hal yang membahagiakan kita?

Sangat sadar, bahwa sejak awal hati kita memang telah terlalu berpenyakit. Berkali-kali kita hendak mengobatinya namun gagal lagi dan lagi. Sudah sememangnya hati kita saling berjauhan demi mengobatinya. Dan kau adalah hati yang lebih dikuatkan saudaraku, kau yang mampu memenuhinya. Maka kukatakan padamu "Semoga Allaah Memberkahimu."
Ini sudah menjadi kehendak Allaah, dan kukira inilah bentuk kasih sayang Allaah untuk kita. Bukankah jika Allaah membiarkan kita maka itu artinya Allaah membiarkan kecelakaan untuk kita?

Meskipun ini terlihat seperti sebuah perpisahan, tapi bagiku ini bukanlah perpisahan. Bukankah aku pun telah menginjak pasir yang sama dengan di bawah pijakanmu? Dan Bukankah perpisahan yang sesungguhnya adalah ketika satu orang di neraka dan yang lainnya di surga? Maka aku berdoa semoga Allaah menghadiahkan tempat yang sama untuk kita kelak: Jannah.

Untuk saudaraku di tanah yang jauh.
03/12/2015

Friday, November 13, 2015

Berkisah Pada Menit

Barangkali yang kulihat itu bukan lubang, tapi lorong terakhir... Apalagi? Ada yang akan tinggal, di sebuah pesan terkahir. Nanti... Berdoa Berdoa Berdoa... Biar lebur, pada cinta yang kudus. Ada yang akan datang. Kepastian.

Thursday, November 12, 2015

Pesan Lama

Kau bilang jangan takut saat aku pergi, karena perpisahan adalah sunnatullah. Lalu kau memintaku menjadi dandelion, dan memang aku telah menjadi dandelion setelah itu. Hatiku lebih tipis dari kapas, mudah diterbangkan angin. Dan sekarang aku memilih untuk lapuk di tanah. Mungkin bosan dengan diriku sendiri. Hingga Saya ingin tebal di sana, tertidur di bahu tanah. Menunggu doa-doa memelukku
. Untuk segalanya, jika memang ditakdirkan, biarlah Allah yang menjaga ikatannya.

Friday, November 6, 2015

Hujan

Yang kusukai dari hujan adalah,
dia yang tetap berjanji datang walau tahu
bagaimana sakitnya jatuh berkali-kali.











Hujan---

Monday, August 31, 2015

Rindu Blog

Aku tidak tahu harus menulis apa. aku hanya rindu, rindu sekali menjenguk blog ini. lama sekali kubiarkan kosong, tidak merawatnya dengan baik.
beruntung saja, passwordnya masih benar hingga masih bisa berkunjung ke sini lagi.
apa kabar para blogger? semoga baik.

Salam malam, salam seindah Az.
Azgia Phanta.

Mari tidur.

Thursday, March 12, 2015

Bagaimana jika?

Bagaimana jika ku ucapkan rindu tepat di depan matamu yang kukagumi?
Apa yang kau siapkan ketika ku tagih rindumu?

senyum bukan penawar. bagiku!


**Sore di Kampus

Sunday, February 15, 2015

KITA ANAK LEMBAH HARAPAN



                                               Siapakah diantara kita yang telah lupa betapa indahnya lembah yang teramat sunyi itu? Siapa diantara kita yang malu mengakui bahwa ia berasal dari sebuah lembah?
Dan sebelum ini, kita telah menautkan langkah dalam berpasang-pasang kaki. Kita adalah bocah-bocah dari tanah Lembah Harapan, pengais kisah lembah, perakit-rakit cerita di antara pohon belantara. kita menamai diri sebagai Panji pedalaman.
Ada banyak hal yang sangat kurindukan dari belasan tahun yang lalu bersama kalian. Ketika kita saling bersahut-sahutan dari anak tangga masing-masing dipagi buta, mendengarkan orangtua kita yang sedang membicarakan keadaan ladang mereka, atau sambil kita duduk malas membungkus seluruh tubuh kecuali kepala demi menahan dinginnya Lembah. Lalu dengan begitu kita harus rela di omelin karena tidak bergegas mandi di sumur. Atau anak perempuan yang lupa membawa ember kecil kesumur akan dikurangi jatah cuci kakinya karena tidak membawa air pulang kerumah. Hoho, ini mungkin hanya aku yang sering mengalaminya. Aku memang pemalas dari kecil, jarang-jarang aku menyadarinya. :D
                Kalian masih ingat sumur-sumur yang biasa kita manfaatkan? Juga sungai-sungai tempat kita berenang setelah lelah berburu ikan kecil? hutan-hutan belantara yang kita tembus dengan keberanian yang dipaksa-paksakan demi mendapatkan bunga anggrek? Atau saat kita dengan beraninya berbohong pada orangtua demi mendapatkan izin keluar rumah hanya demi berburu burung-burung ‘Dongi-dongi’ yang ada ditengah perkebunan tetangga? Kukira, dalam ingatan kalian semua rekaman masa kecil kita masih tersimpan rapi.
 Kelak jika aku tertakdir pulang kesana aku ingin mengunjungi tempat-tempat itu. Aku ingin berdiri ditepian sumur sambil memutar apa yang pernah terjadi disini dulu, saat ibu-ibu yang sedang mencuci dengan rela menghentikan kegiatan mencucinya demi menimba air untuk kita mandi, lalu paling sering aku datang tanpa membawa sabun mandi. Sebagai gantinya aku memanfaatkan daun-daun pohon gamal yang tumbuh subur disekitar sumur dengan menggosok-gosoknya keseluruh tubuhku hingga berbusa. Dan berlomba lari melewati  semak-semak belukar, berpencar pada jalan setapak menuju rumah masing-masing. Mendiskusikan kembali tentang permainankemarin(Ma’benteng ,lempar tengah, main asing,), mengingat-ingat skor terakhir dan menuduh kakak-kakak kelas banyak yang curang. Bersemangat kesekolah tanpa alas kaki, jangankan memakai sepatu, punya seragam sekolah saja sudah bagus. Dan kegirangan saat satu-satunya guru untuk enam kelas telat atau sama sekali tidak datang karena ini adalah hari sabtu, Pak guru pasti ke pasar. Dan dasar bocah-bocah nakal, ketika guru tidak datang, kita malah memanfaatkannya untuk menonton perkelahian, kuingat sekali diantara kalian ada dua orang yang paling sok jagoan untuk beradu kekuatan diatas meja. Kami menjadi penonton paling heboh dengan teriakan “ewakoo” :D , kalian jangan pura-pura lupa ya :p
Dulu Ketika malam, Lembah kita berubah layaknya kamar gelap. Benar-benar gelap. Jangankan listrik, masing-masing rumah hanya rata-rata memiliki dua lentera karena berhemat minyak tanah. Tapi kita tetap semangat belajar dengan penerangan sederhana, belajar tambah kurang dan kali, mengeja satu persatu huruf dari buku yang dipinjamkan pak guru siang tadi, atau kita harus mengalah ketika orangtua harus membawanya pergi karena hendak membersihkan biji-biji cokelat yang belum dipisahkan dari ampasnya, atau malah membawa lari satu lentera paling terang untuk berburu jangkrik bersama teman-teman lainnya diantara bongkahan-bongkahan tanah depan rumah tetangga. Dan kami anak perempuan hanya melihat-lihat keberadaan kalian melalui penerangan yang kalian gerak-gerakkan sambil penasaran dengan jangkrik hitam-putih yang sering kalian ceritakan. Berharap ada yang membawanya pulang agar kami bisa melihat permainan sabung jangkrik esok pagi.
Sekarang masing-masing kita sudah dewasa, kita bukan lagi bocah-bocah nakal  lembah. Kita sudah memiiki langkah masing-masing, profesi yang berbeda-beda. Kisah ajaib dan keseruan masa kecil hanya rekaman jejak dalam kenang.
 Aku bangga memiliki saudara seperti kalian. Aku bangga telah dibesarkan disebuah lembah sunyi nan terbelakang bersama teman-teman hebat seperti kalian.
Makassar 13 januari,
Lembah Harapan/Pangi-pangi dalam kenangan.