Awalnya kukira akan sangat banyak air mata,
tapi ternyata harapan lah yang lebih banyak bermunculan.
Telah kupikir-pikir kembali : Hal apa yang harus membuatku menangis dan bersedih?
Bukankah setelah kau memutuskan itu, menjadi hal yang membahagiakan kita?
Sangat sadar, bahwa sejak awal hati kita memang telah terlalu berpenyakit. Berkali-kali kita hendak mengobatinya namun gagal lagi dan lagi. Sudah sememangnya hati kita saling berjauhan demi mengobatinya. Dan kau adalah hati yang lebih dikuatkan saudaraku, kau yang mampu memenuhinya. Maka kukatakan padamu "Semoga Allaah Memberkahimu."
Ini sudah menjadi kehendak Allaah, dan kukira inilah bentuk kasih sayang Allaah untuk kita. Bukankah jika Allaah membiarkan kita maka itu artinya Allaah membiarkan kecelakaan untuk kita?
Meskipun ini terlihat seperti sebuah perpisahan, tapi bagiku ini bukanlah perpisahan. Bukankah aku pun telah menginjak pasir yang sama dengan di bawah pijakanmu? Dan Bukankah perpisahan yang sesungguhnya adalah ketika satu orang di neraka dan yang lainnya di surga? Maka aku berdoa semoga Allaah menghadiahkan tempat yang sama untuk kita kelak: Jannah.
Untuk saudaraku di tanah yang jauh.
03/12/2015
No comments:
Post a Comment