16-07-2014
Pagi
yang dingin, berbau sisa-sisa hujan. memanjakan kulit-kulit cokelatku
untuk tetap nyaman bersembunyi di dalam selimut tipisku. Hari ini adalah
hari ke-18 dibulan ramadhan tahun ini. Aku memain-mainkan jemariku
dalam selimut, sesekali menautkan kanan dan kiri memberi kehangatan, Ibu
disampingku sudah tampak lebih cerah. tanpa bertanya Ibu bilang hendak
ke pasar, aku tak bergeming. tidak berniat ikut, tidak juga memesan
sesuatu. pagi itu, tanpa diminta Ibu bercerita perihal tetangga yang
meninggal kemarin malam. sesekali aku membalas, menjawab jika Ibu
bertanya.
"Dia itu orangnya baik sekali, dulu sewaktu orang lain benci sama Ibu dia tidak pernah berubah" Kenang ibu.
"Dulu,
waktu ibu masih tinggal......" Aku melihat mata Ibu berkaca-kaca pagi
ini, masa lalu Ibu ternyata sungguh pahit. Membayangkannya saja aku
serasa teriris. Hati siapa yang tidak sakit kena Fitnah sekejam itu,
dianggap penyebab kematian beberapa orang, suamipun sedang dalam rantau.
secara tidak langsung ibu terusir dari kampung, akhirnya memilih pergi
bersama anak-anaknya dari tanah bugis ke kampung orang Tolaki, mencari
kampung lain di belantara Hutan. Sampai disana ibu masih belum terlepas
dari mereka, orang-orang mengira ibu sudah mati karena kena karma. Kakek
yang begitu tau kabar ini ingin memastikan kebenarannya, Beliau
menyusul Ibu ke sana. Katanya kakek amat takut, kakek takut Ibu
benar-benar sudah meninggal. selama ini, beliau yang selalu menguatkan
Ibu. tiba dikampung Kakek tdak bertanya kepada siapapun, kakek ingin
melihat langsung gubuk Ibu, dan ternyata kabar itu salah. Ibu masih
hidup, sehat. Aku membayangkan perasaan Ibu saat itu, dianggap telah
meninggal oleh keluarganya sendiri karena karma. Mata ibu berkaca-kaca,
aku benar-benar menyaksikannya.
"Kalau misalnya kami menyambung silaturrahim sama mereka bagaimana? apa Ibu bolehkan?" Tanyaku.
"Tentu
saja boleh, bagaimanapun mereka kan adik-adik dari bapakmu, tapi kalau
Ibu ya takut. nanti dikira Ibu ada maksud jelek lagi, nanti ibu kena
fitnah seperti dulu"
"Tapi ya kalian harus diam-diam, kalau ketahuan bapak pasti dia marah"
"Sebagian
dari mereka sudah meninggal, ya semoga mereka tenang disana" Ibu
menyambung, kudengar ada kata yang berat diantara kalimat itu.
"Itu kata-katanya ikhlas Bu?" tanyaku, berdua dengan kk Zen kami menikmati cerita ibu pag itu.
"ndak tau juga"
"kan
sudah berpuluh-puluh tahu Bu', kalau terus-terusan sakit hati begitu
ndak ada untungnya, lagian kalau kita maafkan dapat pahala" nada
bicaraku sedikit menggoda,
"iyya
memang, tapi .." Nafas ibu panjang. sudah berpuluh tahun fitnah itu
terjadi tapi hati ibu ruupanya masih luka sampai sekarang. Ibu belum
bisa mengikhlaskan, padahal sebagian dari mereka sudah terbaring di
bawah tanah. tiba-tiba aku merasa takut, rupanya sangat mengerikan
menyakiti hati orang. saat kita meninggal dan seseorang itu belum
memaafkan, maka.... astaghfirullah. ya Allah ikhlaskan hati ibuku dan
ampunilah mereka.
Cerita pagi ini selesai saat Ibu sudah bersiap ke pasar. sepeti biasa ibu menanyakan mau di belikan apa, kujawab sedikit bercanda,
"Bu'
tahun ini sya ndak usah di kasih hadiah lebaran. hadiahku itu cukup ibu
memaafkan mereka semua" Ibu tidak menjawab, berlalu pergi...
Rabb, ikhlaskan hati ibuku.. aamiin
No comments:
Post a Comment