kalau ingin mendata satu persatu orang yang tidak pandai menemani kehidupan, aku khawatir namaku tertulis didalamnya. bagaimana mungkin, aku yang hampir tiap pekannya diingatkan tentang silaturrahim, tentang persaudaraan terjalin masih sangat kelu lida untuk berkata 'ya' memenuhi permintaanmu bertemu. bodohnya, aku selalu dengan susah payah mencari alasan untuk membatal perjumpaan. hanya karena satu hal yang sepele, Kecewa.
lalu adakah lantas aku harus menghindar? memutus dilaturrahim? aih, hatiku juga perih dibagian ini. siapa bilang aku bermaksud sekejam itu. tidak, sebenar tidak.
jangan berulang-ulang bertanya mengapa! aku hanya tidak tega melihatmu dengan perasaan benci, menatapmu dengan mata yang menggugat. menyaksikan rasa bersalahmu saat aku meminta alasan kenapa dan kenapa.
siapa yang tega saat aku atau kamu?
Kita sama-sama tak berhatinya dibagian yang berbeda, tentu kau juga tak akan lupa bagaimana lakonmu beberapa musim lalu, yang hingga saat ini masih kusimpan sebagai cerita yang paling kering. tak usah lagi kau banyak bertanya tentangku, tentang hati dan perasaanku. kita bukan lagi kita, tapi sepasang langkah yang berjalan dengan berbeda, yang tidak ingin kubersamakan lagi. ini juga bagian maafku.
sekali lagi, tiada maksud memutus silaturrahim. aku mengerti betul perkara ini. sesekali aku terbaring menatap langit-langit kamarku yang terembes hujan, lalu berdiskusi dengan hatiku. ah betapa sesal mengapa terus kessal.
kau harus paham dengan perasaanku, jangan memaksa atau tampil seperti tanpa rasa dosa. aku masih butuh waktu untuk membalas dengan baik senyummu, aku ingin berkata yang baik saat membalas katamu, tanpa sesal pernah menyinggahi namamu.
No comments:
Post a Comment