Malam bukanlah sekedar waktu melepas penat, tapi sesekali mejadi waktu untuk merenung, mengingat apa yang pernah terjadi dan apa yang akan terjadi esok. Masihkah kan sama ataukah akan tercipta baru?
Tak ada sesuatu yang bisa kusebut istimewa malam ini. Bintang-bintang
hanya ada sekitar 6 dilangit, bulan entah mangkal dimana, langit masih
mendung sisa hujan tadi sore. Tapi memang ada malam yang istimewa? yah
paling kalau tidur dibawah jam 11 malam itulah yang istimewa untukku.seperti biasa, saat orang-orang sudah terlelap mataku masih sempurna segar. Malam sudah larut, sepi sudah pasti, hanya ada deru kipas angin yang bernyanyi didinding lalu setumpuk buku-buku yang berantakan dimeja menjadi objek yang paling setia kupandangi.
Apa yang terfikir olehku saat sepi begini? Banyak! Tentang apa yang telah berlalu dan kulalui, tentang apa yang akan berlalu dan bagaimana termaknai.. seringkali diantara kita, terlebih (Aku sendiri) terlalu meremehkan sesuatu. Dan karena itu, tak jarang kita jadi melebih-lebihkan sesuatu pula.
Hati yang sesak setia terpelihara, jiwa yang lilnglung terbiar, seolah hidup hanya tentang sulit dan juga butiran-butiran airmata. Padahal banyak hal yang lebih dari sekedar itu semua, yang mampu menggiring kita pada kedewasaan, kecerdasan serta kematangan dalam menyikapi hidup.
Mungkin saat ini berfikir kita masih muda, masih waktunya untuk menikmati hidup. hura-hura, bergaya ala artis korea, bersantai dengan teman tanpa batasan. Majelis-majelis ilmu yang kita mampiri seolah tak memberi bekas sebagai bekal, nasehat-nasehat yang menghampiri seolah hanya angin yang numpang lewat. diterima di telinga kanan, keluar dikiri tanpa usaha memaknai. Lalu kapan kita akan merubah semuanya? Kapan? Tapi tunggu dulu, memangnya apa yang harus kita ubah?
Dulu, ngumpul bareng teman-teman tak terkecuali laki-laki adalah hal yang paling menyenangkan, jalan bareng sambil katawa-ketiwi mendaki sebuah gunung, mengadakan pesta bakar-bakar ikan saat malam-malam, berboncengan dibelakang teman lelaki tanpa perduli dia bukan "mahram", berteriak tanpa rasa malu-malu, duduk berhimpitan tanpa rasa risih, menggandeng tangan tanpa rasa kaku, teleponan sambil cengengesan, sms-an tanpa sadar setiap kata ada yang menyaksikan. iyya, kita sungguh tak peduli semua itu.
bahkan Rohis tiap hari jum'at seolah hanya pengisi waktu karena masih betah disekolah, saat teman yang lain sedang khidmat mendengarkan nasehat kita masih nangkring dikantin dan mengikuti rohis saat sebentar lagi selesai, seorang Murobbiyah yang jauh-jauh datang demi membagi ilmu tak jarang kita bercerita dibelakangnya, "Ninja Hattory, atau Power Rangers", begitu seingatku dulu kita menertawainya karena wajahnya tertutup oleh selembar kain. Jujur saja, sedih jika mengingat itu semua.
Tak sedikit apa-apa yang kita dengar darinya menjadi hal yang tertolak, kita selalu berkoar-koar "Kenapa sih harus begitu?", "Menurutku itu berlebihan", "Ah aku nggak setuju", padahal semua tak terlepas dari rasa sayangnya kepada kita yang bukan siapa-siapa baginya, rasa sayang seorang kakak yang telah menganggap kita sebagai adik-adiknya sendiri karena ALLAH.
Pikiran kita memang terlalu sempit. Melihat orang-orang seperti mereka, yang terlintas dikepala kita saat itu adalah 'Terlalu Ekstrim' sehingga kita membuat batasan sendiri terhadap mereka, ada rasa tak nayaman saat dekat, bisa dibilang berusaha menjauh. Juga saat melihat lelaki yang bercelana gantung yang belakangan kutahu mereka dipanggil "Ikhwan" kita selalu bertanya-tanya "Bagaimana cara mereka memaknai hidup ini y?" dan dibelakangnya kita berbisik "Banjir". ouh, sungguh malu aku pernah merapal-rapalkan itu semua.
Tapi kawan, tidakkah waktu telah mengubah pola fikir kita yang kekana-kanakan menjadi dewasa, yang sempit menjadi terbuka lebar, yang tak tahu batasan pergaulan menjadi membatasi diri, dari yang abai pada ilmu agama menjadi semangat belajar ilmu syar'i, dari cemburu pada artis ngetop beralih pada cemburu pada orang-orang shaleh/shalehah.
Jadi apa yang harus kita ubah? = Semuanya. Semua yang sia-sia menjadi Yang berharga.
Semoga ALLAH mengistiqomahkan kita setelah kita dihadiahkan petunjuk.
No comments:
Post a Comment