Monday, June 9, 2014

Jangan Dekat-Dekat



Senin… 9 juni 2014
Pagi ini cerah sekali, secerah hatiku menyambut mentari. Bulan masih di angka 6, itu artinya musim kemarau belum bergulir walau kemarin sore seragam kuliahku masih sempat basah tersiram gerimis dari langit yang abu. Sebenarnya hari ini aku ingin beristirahat setengah hari full sebelum berangkat kuliah pukul 12 siang nanti, beberapa hari ini aku merasa sangat cepat lelah. Mungkin kurang tidur saja, dugaku di bathin.
Orang-orang rumah sudah rapi, mandi dan berpakaian yang bagus-bagus. Aku tahu mereka semua akan ke rumah sakit hari ini. kak Amran, kakak pertamaku untuk kesekian kalinya akan melakukan pemeriksaan saluran urine nya. Sejak malam tadi aku sudah memberitahu mereka untuk tidak ikut mengantar kak Amran kerumah sakit, jika sempat aku akan singgah dirumah sakit sepulang kuliah nanti sore. Begitu janjiku pada mereka. Namun dari kamar kudengar suara tangis Iffah, ponakanku yang berusia empat tahun memanggil-manggil namaku. Mamanya datang memberitahu bahwa Iffah ingin aku ikut kerumah sakit. Aku bilang duluan saja, nanti aku menyusul atau singgah sepulang kuliah, tapi Iffah tidak berhenti menangis, ia selalu saja merengek agar aku ikut jika ia mau bepergian, begitupun jika aku akan bepergian dia tak jarang menangis minta ikut. Baiklah aku mengalah dan cepat-cepat mandi dan berpakaian.
Kak Amran, kak Ati dan iffah juga Lina sepupuku berangkat kerumahsakit menggunakan taksi argo, aku mengendarai motor maticku dibelakang mereka. Tiba disana, kami langsung mengambil antrian. Kak Amran mendapat antrian 83, sementara berkas yang masuk ke ruang Internal Radiologi, tempat kak Amran akan di periksa baru urutan ke 50 lebih. Itu artinya  masih ada sekitar 30 antrian lagi. Huuf masih lama banget ini, kataku.
Sambil menunggu antrian, kami berlima duduk diruang tunggu, kursi yang empuk dan nyaman. Kutelisisk satu persatu orang-orang yang ada disekitarku, beragam keadaan yang bisa kusaksikan pagi ini. Mulai dari bayi yang tidak mampu menahan lehernya padahal usianya sudah cukup untuk itu, ibu-ibu yang hanya bisa di duduk dikursi roda, seorang pemuda yang berat badannya sungguh dibawah normal, dan kakakku sendiri yang hampir tiap sepuluh menit mengunjungi kamar mandi. Rabb, nikmat Engkau yang manakah yang harus kudustakan? Disaat mereka sedang menanggung sakit masing-masing aku masih bernafas dalam keadaan sehat wal afiat. Ya Rabb, ajari kami untuk banyak-banyak mengucap syukur.
Kami masih setia menunggu antrian ke 83, aku memperkirakan sekitar ba’da dhuhur barulan antrian itu akan keluar. Kukatakan aku tidak bisa menunggu sampai selesai, jam 12.30 nanti aku ada praktik business English. Sementara masih dengan posisi dudukku tadi, tiba-tiba seseorang datang duduk dibelakangku. Aku terkejut mendapat sentuhan di punggungku. Aku melirik kebelakang, Alhamdulillah seorang ibu-ibu tua sedang mengistirahatkan diri.
Karena merasa jenuh, aku merogok handpone didalam tasku. Mencari hiburan melalui dunia maya, sedang asyik chat dengan beberapa teman tiba-tiba aku mendapatkan sentuhan agak keras lagi dari belakang. Aku kembali menoleh, memastikan apakah masih ibu-ibu tadi yang duduk dibelakangku tapi, astaghfirullah seorang laki-laki yang hampir seumuran kak Amran seenaknya datang duduk dan menempelkan punggungnya di punggungku. Dengan cepat aku bergeser, berjarak sekitar beberapa centimeter. Tapi aku sudah terlanjur tidak nyaman, aku berbisik pada Lyna yang duduk disampingku “Tukaran tempat yuk”, Lina curiga kenapa aku mau bertukaran tempat, dia langsung menoleh siapa gerangan dibelakangku. Dia tertawa sambil menjawab “nggak mau ah”. Dalam hatinya mungkin berkata “kita sma aja kali”. Karena terlanjur merasa tidak nyaman, dan Lyna pun tidak mau bertukaran tempat akhirnya aku memutuskan untuk berangkat ke kampus lebih cepat. Kepada Lyna sekali lagi aku berbisik “Kamu hati-hati ya”, dia tertawa, mungkin dia tahu aku masih kessal. Kak Ati yang tidak tahu apa-apa malah berkata “Orang dia cuma disini kok” Aku dan Lina saling berpandangan, tersenyum. Hanya kami yang tahu kenapa aku berpesan “Hati-hati”.
Diatas motor aku masih teringat kejadian itu, dalam hati aku berfikir kalau terhadap perempuan yang berpenampilan sudah tertutup masih juga ada lelaki yang tanpa segan berbuat seperti itu apalagi terhadap wanita yang penampilannya terbuka dimana-mana?
Aku memacu motorku menuju kost salah seorang temanku, jam segini masih terlalu pagi untuk datang ke kampus. Disana aku mendapati temanku sedang heboh, Aku yang datang hanya dipersilakan masuk, tidak seperti biasa yang selalu semangat jika aku sempatkan untuk mampir di kostnya. Dan rupa-rupanya dia sedang ada masalah lagi dengan pacarnya, dan sepertinya dia tidak akan mendapat jemputan hari ini.  Aku yang kemudian tahu perihal itu kembali membayangkan kejadian dirumah sakit tadi, jika aku begitu kessal karena punggungku disentuh oleh lelaki yang bukan mahramku ternyata temanku malah akan bersedih hati karena tidak bisa duduk dibelakang punggung pacarnya hari ini. Sejenak aku tersadar, tidak seharusnya aku membanding-bandingkan diriku dengannya, seharusnya aku bersedih karena dia temanku sedang menyedihi sesuatu yang sesungguhnya menjadi mudharat baginya.
 Dalam hati aku bersyukur hari ini dia tidak berboncengan dengan pacarnya, aku berdo’a semoga Allah menyadarkannya bahwa laki-laki yang setiap hari datang menjemputnya belumlah halal untuk ia berada dibelakangnya. laki-laki yang seharusnya berada didepannya saat berboncengan adalah lelaki yang sudah mengucapkan ijab Qabul dihadapan Allah dan orang tuanya, bukan yang sekedar berani merayu dengan kata manisnya namun tidak punya nyali untuk melamar dan menghalalkannya. Ya semoga secepatnya ia akan menyadari kekeliruannya untuk tidak lagi saling dekat-dekat sampai yang halal datang untuknya, aamiin.

No comments:

Post a Comment