Az, Lentera di Kaki Senja~
Dan tidak
perlu banyak isyarat untuk selalu memulai. Sore itu langit menawarkan
lukisannya. Tetap biru dengan rupa awan tak berbentuk, mereka berlaku abstrak,
sesuka hati melintas langit, saling sapa, senyum dan tetap santun. Yang melihat
dari Bumi pun turut damai. Yang dinamakan senja. Tampilnya di layar langit
barat. Membawa sejuta jingga, berbalut romansa rindu. Untuk sepersekian menit,
kembali keperaduan beruntut tasbih. Dan merangkul bunga Azalea. Adalah Senja
masih berdiri di Pantai Nirwana, matanya lekat menatap matahari, belum sempurna
menjadi senja. Angin menyapa hijabnya, tersenyum, dalam hati ia berkata
"Kemarau, datangkah engkau di Musim ini? Aku tak merindu apapun, tidak
dengan pohon kering, tidak juga angin lembut, apalagi daun yang jatuh. Aku
hanya ingin bergerak dengan kata "bebas"." Helaan nafasnya
panjang, sepanjang rindunya di ujung senja, yang (mulai) tertutup kelabu.
-MENDUNG- "akankah hujan? Atau malah mataku yang akan berhujan bersama
jiwa yang sekarat dipendam tanda tanya?
Yang kau katakan "menangislah
karena itu bahagia" lirihnya. Mendung menguasi langit barat. Namun senja
tetaplah senja, ia jingga sama seperti lentera. Lentera menerangi wajah senja
yg muram bersama pekatnya mendung.
"Ini Az, lentera untukmu di senja ini,
Ku ambil dari nama Azalea sebagai lambang keikhlasan. Walau mendung menyapu
senja, namun Az bisa tetap kau bawa untuk berjalan. Aku tau, banyak tempat yg
belum mampu kau tapaki, beriringlah bersama Az, maka senja menawan kau nikmati
dengan hati yang luas. Seluas padang Azalea. Az tidak pernah mengeluh menjadi
lentera, walau harus bermain bersama api. Baginya menerangi lebih indah. Azalea
pun demikian, tak pernah ragu menjadi bunga liar, yang tumbuh di bukit gersang.
Tak pedtlh walau tidak pernah ditanam apalagi disirami. Ia tak pernah takut
kehilangan, ia hadir bukan karena dihadirkan. Ia damai selama tak pernah merasa
mulia. Sebab, keikhlasan menjadikannya lebih berkesan."
Senja, Kau katakan "Ikhlaskan,
jika bayangnya menghampiri, tak usah marah atau malah menyalahkan. Sebab Kau
masih punya pilihan untuk selalu berdamai dengan hatimu, jiwamu, dan rasamu,
hingga oleh waktu ia akan pudar tanpa harus kau paksakan."
Senja, Kau
katakan "Apapun yang menjadi kegagalanmu dimasa lalu, masa depan tak
pernah berharap diabaikan. Apapaun yang menjadi kesakitanmu dulu, masa depan
tak pernah berharap diacuhkan. Bagaimanapun kepahitanmu dimasa lalu, masa depan
memintamu memaniskannya."
Kau ingat, bahwa hidup itu seperti minum teh.
"Jika kau minum teh pahit, maka teh itu pahit. Namun jika kau minum teh
manis, maka teh itu manis"
*** Senja, Aku hanya mampir berteduh diteras
rumahmu. Namun kau ramah menawarkan kue Panada dan Susu Coklat. Kau duduk
disampingku sambil bercerita tentang hujan. Namun yang kau suka adalah gerimis.
Ocehanmu begitu hangat, berkisah kejadianmu tentang LUPA. Lupa yang kau sebut
Anugerah. Lupa yg sudah melekat di jiwamu. Lupa adalah bahagia bagimu, saat yg
lain takut pada 'lupa'. Yang mengajarkan arti "untuk apa cemburu? Karena
kita tdk memiliki apapun/siapapun, melapangkan dada untuk lengan ditinggalkan,
berdamai dgn jiwa, hati, dan rasa beriring waktu, mengingat kematian dan jangan
menjadi sia-sia." Kukatakan, Damai jiwaku duduk denganmu. Karena kita
hanya bercerita tentang kita. Karena kita dipertemukan dengan makna
"perasaan" secara sederhana.
17 April 2014 Ketika langit biru ikut
berbicara. Senyum sapamu pagi itu.


Aku baru membacanya di jam 12 malam, kau tahu? membaca tulisanmu aku merasa kau seolah sangat mengenalku, tahu banyak hal tentangku. tak habis fikir ternyata kau mengikuti tulisan2 diberandaku sehingga kau mampu mengikuti perasaanku. aku tahu, kau menulis semua ini dengan hati, kan? hehe. ah apapun namanya, aku berterimakasih sudah repot2 menuliskan tentangku. semoga ALLAH senantiasa merahmatimu Ukhti.. aamiin
ReplyDelete