TAK BERJUDUL
Sepertiga
rasa itu adalah milikku, aku membawanya pulang sendirian. Sepertiga rasa itu
memang menjadi rasaku, kugenggam erat dalam jari keringku. Aku masih sempat
meloncat dan menertawakannya dipinggir jalan, sebodoh inikah tingkah seorang
anak manusia?
Belum
juga usai kuperbincangkan ia bersama angin, sekonyong datang segerombolan
pasukan dari langit. Membasahi tubuhku yang nanti akan kian ringkih, aku genap
merasakannya kembali. Gerimis. Ia memaksaku kembali merasainya, menghitung tiap
bulirnya yang sebenarnya tak ingin kulakukan. Ah semua ini berasal dari manakah
sebenarnya? Adakah silam ataukah yang kemarin sore? Atau mungkin juga sebab tak
sempurna kusudahi?
Sebenarnya mudah saja, sebab
satu warkah itu telah jauh mendamparkanku. Membuka luas jalan mengusirku pergi,
menemani aku menyusurinya, dan masih ada sekulum senyum yang memanduku hingga
mencapainya. Tahukah bagaimana aku disana? Aku tak pernah ingin kembali, jalan
itu tak sekalipun kulirik meski ia tak merapat.
Re, setelah ketiadaanmu
haruskah yang kedua, ketiga, dan seterusnya kusebut sama?
No comments:
Post a Comment