Thursday, April 10, 2014

Tanpa Judul



TAK BERJUDUL
Sepertiga rasa itu adalah milikku, aku membawanya pulang sendirian. Sepertiga rasa itu memang menjadi rasaku, kugenggam erat dalam jari keringku. Aku masih sempat meloncat dan menertawakannya dipinggir jalan, sebodoh inikah tingkah seorang anak manusia?
Belum juga usai kuperbincangkan ia bersama angin, sekonyong datang segerombolan pasukan dari langit. Membasahi tubuhku yang nanti akan kian ringkih, aku genap merasakannya kembali. Gerimis. Ia memaksaku kembali merasainya, menghitung tiap bulirnya yang sebenarnya tak ingin kulakukan. Ah semua ini berasal dari manakah sebenarnya? Adakah silam ataukah yang kemarin sore? Atau mungkin juga sebab tak sempurna kusudahi?
Sebenarnya mudah saja, sebab satu warkah itu telah jauh mendamparkanku. Membuka luas jalan mengusirku pergi, menemani aku menyusurinya, dan masih ada sekulum senyum yang memanduku hingga mencapainya. Tahukah bagaimana aku disana? Aku tak pernah ingin kembali, jalan itu tak sekalipun kulirik meski ia tak merapat.
Re, setelah ketiadaanmu haruskah yang kedua, ketiga, dan seterusnya kusebut sama?

No comments:

Post a Comment