Sangat banyak kata yang
ingin ku sampaikan, tepatnya belum sempat ku suarakan. Tapi kini segalanya
terserak dan bersembunyi, menggantung bersama awan di langit hati yang
terangnya hanya beberapa kali bahkan nyaris saja terkadang. Masih sangat banyak
kata yang hendak ku tulis di atas kebisuan putih agar jelma sebaris surat yang
tak inginkan sapucukpun balasan, tapi lamban semuanya berjalan, mengkakukan
jemariku yang tak lagi lincah menjahit setiap kata yang ia dengar seperti deru
dari bisikan gelombang rongga satu bagian diri.
Pinta
yang sesekali kudengar sangat ribut menembus gendang telingaku bahkan mampu ku
acuhkan seolah hatiku sudah tak ada, entah kemana ia bermukim hingga
kepeduliannya tak lagi peka se zaman dulu. Atau mungkin saja ia tersesat
tersembunyi gelap, kemarin ia tengah menjauh merangkak mencari bayang di
punggung cahaya yang lama ia tinggali, namun tak ada pamit yang ia bisikkan di
akhir langkahnya hingga entah kapan ia datang lagi.
Ribuan
kata itu kembali membising, sesekali tenang, merengek, mengiba lalu mengancam. Tapi
bagaimana lagi, aksaraku kini sudah buta, diksiku lumpuh tak tegap, penaku tumpul
tak beranjak meruncing, namun picing mataku menampung segalanya.
Di
antara gelap dan terang kutemui senyum menumpang bahagia yang sesungguhnya
bukan miliknya, sekali lagi ia tersenyum lagi, mencari kesungguhan perjalanan
harinya yang pernah kering tak terbasahi kemudian hidup di atas kerapuhan yang
tengah ia kokohkan kembali (anggap saja begitu). Ah lihatlah ada yang mekar di
dalam mimpinya, ia tertawa di atas mimpi-mimpi itu, senyumnya terkulum bak
gemulai sang penari.
Tentang
mimpi, sebenarnya ia pernah terhimpit bersama lukisan yang ia cipta dengan
serampangan. Namun satu senyum yang berhasil ia cipta kembali ternyata mampu
mencipta senyuman-senyuman berikutnya, bening yang pernah menjadi cerita di
ujung matanya kini abstrak, hilang bersama malam menjemput bulan. Kakinya
tengah berlari demi melukiskan euphoria kedamaian, kebahagiaan dan senyum yang
tak ingin keruh lagi.
Sekali lagi tentang
semua kata itu, sesungguhnya ia telah terhapus dari kemarin sore. Aku
menitipnya pada angin, disampaikan pada awan lalu di hapuskan oleh hujan,
kemudian pelangi menawarkan senyuman setelahnya. Lalu tentang arti hidup, aku
telah meng-ejanya lebih baik lagi agar tak ada makna ambigu yang tersisa ketika
menerjemahkannya. Itulah yang kutemui.
Dan lihatlah dicermin
yang basah, telah kupungut wajahku yang berkelekar tanpa cacat disana. Jadi Yang terakhir, kurasa kalian semua harus
mengakui itu. hahaha :p
No comments:
Post a Comment