Thursday, April 10, 2014

Tentang Mimpi Yang Kembali




Sangat banyak kata yang ingin ku sampaikan, tepatnya belum sempat ku suarakan. Tapi kini segalanya terserak dan bersembunyi, menggantung bersama awan di langit hati yang terangnya hanya beberapa kali bahkan nyaris saja terkadang. Masih sangat banyak kata yang hendak ku tulis di atas kebisuan putih agar jelma sebaris surat yang tak inginkan sapucukpun balasan, tapi lamban semuanya berjalan, mengkakukan jemariku yang tak lagi lincah menjahit setiap kata yang ia dengar seperti deru dari bisikan gelombang rongga satu bagian diri.
            Pinta yang sesekali kudengar sangat ribut menembus gendang telingaku bahkan mampu ku acuhkan seolah hatiku sudah tak ada, entah kemana ia bermukim hingga kepeduliannya tak lagi peka se zaman dulu. Atau mungkin saja ia tersesat tersembunyi gelap, kemarin ia tengah menjauh merangkak mencari bayang di punggung cahaya yang lama ia tinggali, namun tak ada pamit yang ia bisikkan di akhir langkahnya hingga entah kapan ia datang lagi.
            Ribuan kata itu kembali membising, sesekali tenang, merengek, mengiba lalu mengancam. Tapi bagaimana lagi, aksaraku kini sudah buta, diksiku lumpuh tak tegap, penaku tumpul tak beranjak meruncing, namun picing mataku menampung segalanya.
            Di antara gelap dan terang kutemui senyum menumpang bahagia yang sesungguhnya bukan miliknya, sekali lagi ia tersenyum lagi, mencari kesungguhan perjalanan harinya yang pernah kering tak terbasahi kemudian hidup di atas kerapuhan yang tengah ia kokohkan kembali (anggap saja begitu). Ah lihatlah ada yang mekar di dalam mimpinya, ia tertawa di atas mimpi-mimpi itu, senyumnya terkulum bak gemulai sang penari.
            Tentang mimpi, sebenarnya ia pernah terhimpit bersama lukisan yang ia cipta dengan serampangan. Namun satu senyum yang berhasil ia cipta kembali ternyata mampu mencipta senyuman-senyuman berikutnya, bening yang pernah menjadi cerita di ujung matanya kini abstrak, hilang bersama malam menjemput bulan. Kakinya tengah berlari demi melukiskan euphoria kedamaian, kebahagiaan dan senyum yang tak ingin keruh lagi.
Sekali lagi tentang semua kata itu, sesungguhnya ia telah terhapus dari kemarin sore. Aku menitipnya pada angin, disampaikan pada awan lalu di hapuskan oleh hujan, kemudian pelangi menawarkan senyuman setelahnya. Lalu tentang arti hidup, aku telah meng-ejanya lebih baik lagi agar tak ada makna ambigu yang tersisa ketika menerjemahkannya. Itulah yang kutemui.
Dan lihatlah dicermin yang basah, telah kupungut wajahku yang berkelekar tanpa cacat disana.  Jadi Yang terakhir, kurasa kalian semua harus mengakui itu.  hahaha :p

No comments:

Post a Comment